Faktual.news – Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah tengah menjadi sorotan tajam para pengamat energi dunia. Meskipun jalur pelayaran vital di Selat Hormuz dilaporkan sudah tidak lagi lumpuh, sebuah paradoks besar tengah terjadi di pasar energi global. Alih-alih mengalami penurunan, harga bahan bakar minyak (BBM) seperti bensin dan diesel justru tetap meroket di berbagai belahan dunia.
Fenomena ini memicu tanda tanya besar di kalangan konsumen. Mengapa harga di pompa bensin tetap mahal padahal aliran minyak dari Teluk Persia diklaim sudah mulai kembali normal? Ternyata, jawabannya bukan terletak pada ketersediaan pasokan, melainkan pada biaya logistik dan risiko keamanan yang sangat ekstrem.

Meski jalur Selat Hormuz sudah terbuka, risiko keamanan di wilayah tersebut masih menghantui setiap kapal yang melintas. Laporan dari UK Maritime Trade Operations menunjukkan bahwa beberapa kapal dagang, termasuk dua tanker minyak mentah, baru-baru ini terkena proyektil di area tersebut. Ketegangan ini menciptakan efek domino yang langsung menghantam biaya operasional pengiriman minyak.
Lonjakan biaya sewa kapal tanker raksasa atau Very Large Crude Oil Carrier (VLCC) menjadi bukti nyata. Berdasarkan data dari Clarksons, biaya sewa VLCC dari Teluk Persia menuju China kini menyentuh angka fantastis sebesar US$1,6 juta atau sekitar Rp28,6 miliar per hari. Angka ini melonjak drastis jika dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya berkisar di angka US$65 ribu atau Rp1,16 miliar per hari.
Tak hanya biaya sewa, premi asuransi juga menjadi beban tambahan yang sangat berat. Produsen minyak kini harus merogoh kocek antara US$30 juta hingga US$40 juta (setara Rp536 miliar hingga Rp715 miliar) hanya untuk sekali perjalanan pulang-pergi melewati Selat Hormuz. Tom Kloza, penasihat energi dari Gulf Oil, menjelaskan bahwa biaya untuk mengeluarkan satu barel minyak dari Teluk Persia yang dulunya hanya US$2, kini telah membengkak menjadi sekitar US$33 per barel.
Kondisi ini menciptakan selisih harga yang lebar antara minyak fisik dan harga di pasar keuangan. Harga minyak fisik (Dated Brent) yang digunakan untuk pengiriman segera tercatat mencapai US$135,74 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan harga kontrak berjangka (futures) yang berada di kisaran US$100 per barel. Harga fisik inilah yang pada akhirnya menjadi acuan utama harga di SPBU secara global.
Krisis ini diperparah oleh berbagai faktor gangguan pasokan lainnya. Serangan kelompok Houthi di Selat Bab al-Mandeb serta serangan drone Ukraina terhadap kilang-kilang di Rusia turut memperkeruh suasana. Rusia, sebagai salah satu eksportir diesel terbesar, terpaksa membatasi ekspor demi mengamankan kebutuhan domestik. Hal serupa juga dilakukan oleh China.
Dengan menyusutnya cadangan minyak darurat dunia, pasar energi kini berada dalam posisi yang sangat rentan. Meskipun aliran minyak dari Hormuz mulai pulih, biaya keamanan yang luar biasa besar memastikan bahwa harga BBM di tingkat konsumen tidak akan turun dalam waktu dekat.


