Faktual.news – Dunia penerbangan internasional kini tengah menyoroti langkah berani yang diambil oleh Indonesia dalam mengelola ruang udaranya yang sangat kompleks. Di tengah forum bergengsi ICAO Air Navigation World – Air Traffic Flow Management (ATFM) 2026 yang berlangsung di Montreal, Kanada, AirNav Indonesia berhasil mencuri perhatian dunia dengan memaparkan keberhasilan penerapan Free Route Operation (FRTO).
Dalam forum strategis yang mempertemukan para pakar navigasi udara global tersebut, Direktur Operasi AirNav Indonesia, Setio Anggoro, hadir sebagai panelis utama. Ia memaparkan bagaimana Indonesia mengelola konsep lintasan bebas di wilayah udara kepulauan yang luas melalui materi bertajuk "Sequencing Free Route Operation (FRTO) Across Indonesia’s Archipelagic Airspace".

Setio menjelaskan bahwa FRTO merupakan sebuah terobosan yang memberikan fleksibilitas tinggi bagi maskapai penerbangan. Dengan sistem ini, pilot dan maskapai memiliki keleluasaan untuk menentukan lintasan terbang mereka sendiri berdasarkan kebutuhan operasional dan kondisi cuaca terkini, alih-alih terpaku pada jalur kaku yang telah ditentukan sebelumnya.
"FRTO memberikan kebebasan bagi maskapai untuk memilih rute terbaik. Namun, tantangan terbesarnya adalah memastikan kebebasan tersebut tetap terjaga dalam koridor keselamatan melalui dukungan sistem, prosedur yang ketat, serta kompetensi personel yang mumpuni," ungkap Setio dalam keterangannya.
Perjalanan inovasi ini tidaklah instan. Inisiatif FRTO mulai digulirkan sejak tahun 2020, dipicu oleh situasi pandemi COVID-19 yang membuat lalu lintas udara dunia merosot tajam. Menanggapi desakan dari International Air Transport Association (IATA), AirNav Indonesia bergerak cepat berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara serta melibatkan asosiasi pengatur lalu lintas udara (IATCA) untuk menguji konsep User Preferred Route (UPR).
Setelah melalui serangkaian uji coba dan penilaian risiko keselamatan yang sangat ketat, FRTO akhirnya diberlakukan secara penuh pada 5 Oktober 2023 di wilayah Flight Information Region (FIR) Jakarta dan Ujung Pandang, khususnya untuk ketinggian terbang FL330 hingga FL600.
Mengelola ruang udara Indonesia bukanlah perkara mudah. AirNav harus menjaga keamanan di wilayah seluas 7,79 juta kilometer persegi yang mencakup lebih dari 17.000 pulau, sembari harus berkoordinasi dengan 10 negara tetangga. Untuk menghadapi pola lalu lintas yang semakin dinamis, AirNav memperkuat sistem otomasi dan meningkatkan keahlian para pemandu lalu lintas udara guna memastikan standar separasi antarpesawat tetap terjaga.
Keberhasilan ini juga terlihat dari kerja sama internasional yang semakin solid. Indonesia telah berhasil melakukan koordinasi lintas batas dengan FIR Oakland, FIR Port Moresby, hingga mencapai operasi penuh FRTO dengan Australia pada Juli 2025.
Dampak positif dari kebijakan ini sangat nyata, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan. Data menunjukkan lonjakan penggunaan FRTO yang sangat signifikan. Pada tahun 2025, jumlah penerbangan yang menggunakan sistem ini melonjak 82 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 5.030 penerbangan.
Secara finansial, penerapan FRTO pada tahun 2025 berhasil menghemat biaya bahan bakar maskapai hingga USD 8,04 juta. Tak hanya itu, efisiensi rute ini juga berkontribusi besar pada pelestarian lingkungan dengan menghindari emisi karbon dioksida (CO2) sebanyak 5.426 ton.
Ke depan, AirNav Indonesia berkomitmen menjadikan FRTO sebagai fondasi utama dalam pengembangan Trajectory-Based Operations (TBO) serta terus melakukan modernisasi layanan navigasi sesuai dengan standar internasional ICAO.


