Faktual.news – Isu mengenai eksklusi anak-anak panti asuhan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya terjawab dengan tegas. Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan bahwa anak-anak yang tinggal di panti asuhan tidak akan terlewatkan dari program unggulan pemerintah ini. Penegasan ini muncul setelah beredarnya sebuah narasi di media sosial yang menyebutkan bahwa anak-anak panti asuhan tidak mendapatkan hak makan gratis hanya karena mereka tidak memiliki orang tua yang dapat memberikan suara dalam pemilihan umum.
Kabar miring tersebut sempat memicu kegaduhan di jagat maya. Sebuah video yang diunggah oleh akun Instagram @syamsulaco menjadi pusat perhatian publik. Dalam video tersebut, terdapat klaim yang menyatakan bahwa ketiadaan orang tua sebagai pemilih dalam pemilu menjadi alasan anak-anak panti asuhan tidak masuk dalam daftar penerima manfaat MBG. Video tersebut telah ditonton lebih dari 1,4 juta kali dan memancing ribuan komentar dari netizen yang mempertanyakan keadilan program tersebut.

Menanggapi polemik yang berkembang, Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, langsung memberikan klarifikasi. Melalui kolom komentar di unggahan video yang viral tersebut, Sudaryono menjelaskan bahwa mekanisme penyaluran program MBG telah diatur secara sistematis dan tidak didasarkan pada status kepemilikan orang tua atau hak pilih dalam pemilu.
Sudaryono menjelaskan bahwa bagi anak-anak panti asuhan yang saat ini sedang menempuh pendidikan, distribusi makanan bergizi akan dilakukan melalui institusi sekolah tempat mereka belajar. Dengan demikian, mereka tetap mendapatkan asupan nutrisi yang sama dengan anak-anak lainnya melalui mekanisme dan regulasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
"Diberikan MBG di tempat mereka bersekolah. Ada mekanisme dan regulasinya. Mohon dukungan selalu," tulis Sudaryono dalam penjelasannya untuk meredam keresahan masyarakat.
Selain menyasar anak sekolah, BGN juga memaparkan skema distribusi untuk kelompok usia lainnya. Untuk anak-anak usia balita, pemerintah telah menyiapkan saluran distribusi khusus guna memastikan nutrisi mereka terpenuhi sejak dini. Sudaryono menyebutkan bahwa Posyandu menjadi salah satu kanal utama dalam menyalurkan program MBG bagi para balita di berbagai wilayah.
Melalui siaran pers resminya, BGN kembali menekankan pentingnya literasi masyarakat mengenai cara kerja dan jalur distribusi program ini. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kesalahpahaman atau disinformasi di tengah masyarakat. Pemerintah ingin memastikan bahwa cakupan penerima manfaat program MBG benar-benar tepat sasaran, baik melalui jalur sekolah untuk anak usia sekolah, maupun melalui posyandu untuk kelompok balita.
Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan masyarakat dapat memahami bahwa program Makan Bergizi Gratis dirancang secara inklusif untuk mendukung kesehatan generasi mendatang tanpa memandang latar belakang sosial maupun status kependudukan keluarga mereka. Dukungan dari seluruh lapisan masyarakat sangat diharapkan agar implementasi program ini dapat berjalan lancar dan mencapai target yang telah ditetapkan.


