Faktual.news – Kenaikan harga bahan pangan yang terus merangkak naik kini menjadi tantangan nyata bagi ketahanan ekonomi rumah tangga di Indonesia. Fenomena ini memaksa setiap keluarga untuk memutar otak agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi tanpa harus mengorbankan pos pengeluaran penting lainnya. Kondisi ini menjadi kian pelik ketika lonjakan harga kebutuhan pokok tidak dibarengi dengan kenaikan pendapatan bulanan.
Tanpa perencanaan yang matang, anggaran belanja bisa membengkak secara tidak terkendali. Kesalahan dalam pola konsumsi, mulai dari kebiasaan belanja harian yang tidak teratur hingga pembelian stok berlebih yang berakhir mubazir, seringkali menjadi penyebab utama "jebolnya" dompet keluarga. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan arus kas yang lebih disiplin dan taktis.

Perencana keuangan, Andy Nugroho, menekankan pentingnya menyusun skala prioritas sebelum memutuskan untuk pergi ke pasar atau supermarket. Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memisahkan antara kebutuhan wajib dan kebutuhan yang bersifat fleksibel.
"Seseorang harus memprioritaskan pengeluaran yang bersifat wajib dan mendesak, seperti pembayaran cicilan, token listrik, hingga biaya pendidikan anak. Setelah itu, barulah mengalokasikan dana untuk pengeluaran penting namun bisa diatur, seperti biaya makan sehari-hari dan transportasi," jelas Andy dalam keterangannya.
Dengan memisahkan dana belanja pangan sejak awal, keluarga dapat memiliki kontrol yang lebih baik terhadap pengeluaran. Hal ini mencegah terjadinya situasi di mana uang untuk membayar tagihan bulanan justru habis terpakai untuk membeli bahan makanan secara impulsif.
Selain masalah prioritas, Andy juga memberikan peringatan mengenai jebakan belanja dalam jumlah besar atau bulk buying. Banyak orang menganggap membeli stok dalam jumlah banyak akan lebih hemat, namun kenyataannya bisa menjadi bumerang. Jika keluarga tidak memiliki kebiasaan memasak atau tidak memiliki fasilitas penyimpanan yang memadai, bahan pangan yang dibeli justru akan cepat busuk dan terbuang sia-sia.
"Seringkali kita membeli bahan makanan dalam jumlah banyak, padahal sebenarnya kita jarang memasak di rumah. Hal ini justru merugikan karena makanan yang dibeli berakhir di tempat sampah," tambahnya.
Terakhir, masyarakat dihimbau untuk tidak terjebak dalam fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau sekadar mengikuti tren kuliner yang sedang viral. Kebiasaan memesan makanan melalui layanan pesan antar hanya karena sedang tren atau tergoda promo diskon yang sebenarnya tidak dibutuhkan, dapat menggerus anggaran belanja pokok secara perlahan. Pengeluaran kecil yang dilakukan secara berulang, ditambah biaya pengiriman, jika diakumulasikan akan menjadi beban finansial yang cukup besar bagi rumah tangga.


