Faktual.news – Dunia teknologi global saat ini tengah diguncang oleh kehadiran kekuatan baru dari Timur. Sosok di balik fenomena tersebut bukanlah pengusaha konvensional, melainkan seorang jenius matematika bernama Liang Wenfeng. Pria kelahiran Zhanjiang, Guangdong, ini berhasil membangun imperium teknologi melalui DeepSeek, sebuah perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang kini menjadi ancaman serius bagi dominasi raksasa teknologi Amerika Serikat.
Berdasarkan data terbaru dari Forbes, kekayaan Liang Wenfeng telah melonjak drastis hingga mencapai angka US$40 miliar atau setara dengan Rp715,65 triliun. Angka fantastis ini menempatkan dirinya dalam jajaran orang terkaya di dunia, tepatnya di peringkat ke-52 pada daftar Real Time Billionaires. Pencapaian ini merupakan transformasi luar biasa dari seorang anak guru sekolah dasar menjadi salah satu konglomerat paling berpengaruh di era digital.

Perjalanan intelektual Liang dimulai sejak masa kecilnya. Dikenal memiliki kemampuan logika yang tajam, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mendalami matematika dan literatur. Ketertarikannya pada dunia angka membawanya menempuh studi sarjana hingga magister di Universitas Zhejiang. Di sana, ia memfokuskan diri pada bidang teknik informasi elektronik serta komunikasi, dengan spesialisasi pada visi komputer dan penerapan praktis AI.
Sebelum DeepSeek mengguncang dunia, Liang telah membangun fondasi kuat melalui berbagai perusahaan investasi berbasis algoritma. Sejak tahun 2013, ia mulai merambah dunia perdagangan kuantitatif dengan mendirikan sejumlah perusahaan seperti Hangzhou Yakebi Investment Management hingga Ningbo High-Flyer. Pada tahun 2019, ia mendirikan High-Flyer AI yang berfokus pada riset algoritma canggih, sebuah langkah yang nantinya menjadi batu loncatan bagi lahirnya DeepSeek.
Keajaiban sesungguhnya terjadi pada tahun 2023 saat DeepSeek resmi diperkenalkan. Berbeda dengan perusahaan teknologi Barat yang membakar uang hingga miliaran dolar untuk melatih model AI mereka, DeepSeek muncul dengan efisiensi yang mengejutkan. Model penalaran mereka, R1, mampu menyaingi OpenAI o1 milik OpenAI dengan biaya pengembangan yang jauh lebih rendah, yakni hanya sekitar US$5,6 juta. Strategi open-source yang diusung DeepSeek membuat teknologi mereka dapat diakses luas, sekaligus memposisikan perusahaan ini sebagai pesaing tangguh bagi ChatGPT dan Gemini.
Kesuksesan ini membawa valuasi DeepSeek meroket hingga US$52 miliar setelah berhasil menggalang pendanaan besar pada Juni lalu. Namun, di balik gemerlap kesuksesannya, jalan Liang Wenfeng tidak lepas dari badai kritik. Para ahli di dunia Barat mulai menyuarakan kekhawatiran terkait privasi data dan potensi eksploitasi informasi oleh pemerintah China. Isu mengenai penyebaran misinformasi juga menjadi sorotan tajam yang membayangi dominasi teknologi baru ini. Meski demikian, satu hal yang pasti: Liang Wenfeng telah membuktikan bahwa China mampu memimpin perlombaan senjata teknologi masa depan.


