Faktual.news – Korea Selatan secara resmi membuka pintu lebar-lebar untuk menjalin kerja sama strategis dengan Indonesia, khususnya dalam ekspor teknologi baterai canggih dan sistem transmisi listrik bawah laut. Langkah ini dipandang sebagai angin segar bagi ambisi besar Indonesia dalam mewujudkan transisi energi, termasuk target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas raksasa mencapai 100 gigawatt (GW).
Head of the Energy Market and Policy Solutions for Our Climate (SFOC), Gahee Han, mengungkapkan bahwa kedua negara telah melakukan berbagai diskusi mendalam mengenai pemanfaatan teknologi Korea Selatan di sektor energi Indonesia. Salah satu fokus utama yang menjadi sorotan adalah teknologi jaringan transmisi listrik bertegangan tinggi arus searah atau high voltage direct current (HVDC). Teknologi ini sangat krusial untuk membangun jaringan transmisi listrik bawah laut yang efisien.

"Pemerintah kami sangat tertarik untuk mengekspor teknologi tersebut, seperti baterai canggih dan sistem transmisi listrik ke Indonesia. Kami berharap dapat menjalin kemitraan yang kuat dalam skema ekspor dan impor teknologi," ujar Gahee dalam sebuah workshop di Jakarta.
Namun, Gahee memberikan catatan penting terkait kesiapan pasar. Ia menekankan bahwa regulasi pasar listrik di Indonesia harus segera dibenahi agar investasi perusahaan raksasa Korea Selatan seperti SK, Samsung, dan LG dapat berkembang secara berkelanjutan. Menurutnya, mekanisme pasar listrik yang memadai sangat diperlukan untuk memberikan kompensasi yang layak bagi pelaku usaha yang menggunakan teknologi tinggi tersebut.
Selain baterai, Korea Selatan juga menawarkan peluang kerja sama di sektor baja rendah emisi. Perusahaan baja raksasa asal Korsel, POSCO, telah mengembangkan teknologi hydrogen-based direct reduction iron (DRI) yang mampu menekan emisi karbon secara signifikan. Namun, tantangan utamanya adalah ketersediaan energi terbarukan yang stabil untuk mendukung proses produksi tersebut.
Di sisi lain, Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, menyoroti pentingnya integrasi antara PLTS dengan Battery Energy Storage System (BESS) untuk menjaga stabilitas jaringan listrik. Ia menjelaskan bahwa setiap wilayah di Indonesia memerlukan desain sistem yang berbeda, tergantung pada karakteristik jaringan listrik lokalnya.
"Kerja sama ini harus diarahkan untuk memperkuat rantai pasok dan kapasitas manufaktur baterai dalam negeri. Perlu diingat bahwa baterai untuk penyimpanan energi listrik memiliki spesifikasi yang berbeda dengan baterai kendaraan listrik," jelas Deon.
Terkait kebutuhan dana, pembangunan PLTS 100 GW diperkirakan membutuhkan investasi fantastis, yakni mendekati US$80 miliar atau sekitar Rp1.453 triliun. Jika kebutuhan penyimpanan energi dan transmisi turut dihitung, angka tersebut bisa melonjak hingga lebih dari US$100 miliar.
Oleh karena itu, Deon mengingatkan agar Indonesia tidak hanya sekadar menjadi pasar atau pengguna teknologi. Ia mendorong adanya investasi besar di bidang riset dan pengembangan (R&D) serta penguasaan sumber daya manusia agar Indonesia mampu menguasai teknologi tersebut secara mandiri. "Kita harus mendorong investasi riset bersama hingga kepemilikan kekayaan intelektual bersama (joint intellectual property) agar tidak hanya bergantung pada transfer teknologi," pungkasnya.


