Faktual.news – Kabar baik datang dari sektor ketahanan pangan nasional. Pemerintah memastikan bahwa ketersediaan stok beras di tanah air saat ini berada dalam kondisi yang sangat aman dan melimpah. Berdasarkan data terbaru, cadangan beras nasional tercatat telah mencapai angka 4,5 juta ton, sebuah jumlah yang diprediksi mampu mencukupi kebutuhan masyarakat hingga sepuluh bulan ke depan.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), M. Saleh Mustafa, mengungkapkan optimisme tinggi terkait stabilitas pangan ini dalam acara Rembuk Nasional Pemuda ke-III yang digelar di Jakarta, Sabtu (31/10). Menurutnya, capaian jumlah cadangan pangan saat ini merupakan salah satu yang tertinggi dan menjadi bukti nyata keberhasilan strategi pengelolaan pangan pemerintah.

"Alhamdulillah, sampai dengan saat ini stok beras kita aman sampai 10 bulan ke depan. Ini adalah capaian yang sangat tinggi. Cadangan beras kita diproyeksikan tetap terjaga hingga Oktober 2026 dengan volume mencapai 4,5 juta ton," ujar Saleh di hadapan para peserta forum tersebut.
Dalam penjelasannya, Saleh memberikan perbandingan menarik antara kondisi ketahanan pangan Indonesia dengan negara-negara maju lainnya. Ia menyoroti kebijakan Pemerintah Inggris yang baru-baru ini meluncurkan kampanye bertajuk "Be Ready". Kampanye tersebut merupakan imbauan kepada warga Inggris agar secara mandiri menyiapkan stok pangan darurat untuk kebutuhan selama tiga hari ke depan guna mengantisipasi krisis.
Namun, Saleh menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi yang jauh lebih kuat dan stabil. Berbeda dengan negara lain yang hanya bersiap untuk hitungan hari, Indonesia telah memiliki fondasi cadangan pangan jangka panjang yang sangat kokoh. Ia menyebut bahwa strategi besar ini merupakan buah dari gagasan dan visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kedaulatan pangan nasional.
"Luar biasa Indonesia. Kita jangankan hanya untuk tiga hari, kita memiliki cadangan yang cukup untuk sepuluh bulan ke depan. Ini adalah strategi dan gagasan dari Bapak Presiden kita yang sangat kita banggakan," tambahnya.
Meski stok dalam kondisi aman, pemerintah tidak lantas berpuas diri. Antisipasi terhadap perubahan cuaca ekstrem tetap menjadi prioritas utama. Saleh mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto secara langsung telah memberikan instruksi khusus kepada Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, untuk memitigasi risiko gagal panen yang mungkin terjadi akibat intensitas musim hujan yang tinggi.
Presiden dikabarkan sangat memperhatikan kesiapan infrastruktur pendukung di lapangan. Dalam komunikasi intensifnya, Presiden menanyakan kesiapan alat mesin pertanian, terutama pompa air, guna mengantisipasi genangan air di lahan persawahan.
"Beliau (Presiden) bertanya, apakah pompa-pompa sudah disiapkan? Apakah nanti pangan petani-petani tidak akan gagal panen? Kami akan melakukan intervensi dengan mengerahkan mesin pompa di berbagai titik strategis untuk mencegah banjir di area persawahan," pungkas Saleh.
Langkah proaktif ini diharapkan dapat menjaga produktivitas petani tetap stabil di tengah tantangan iklim, sekaligus memastikan rantai pasok beras nasional tetap terjaga tanpa gangguan hingga tahun-tahun mendatang. Melalui kombinasi cadangan yang besar dan mitigasi bencana yang cepat, Indonesia optimis mampu menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat.


