Faktual.news – Di tengah situasi dunia yang kian tidak menentu akibat ketegangan geopolitik dan ancaman krisis pangan global, Indonesia menunjukkan taringnya dalam menjaga stabilitas kebutuhan pokok masyarakat. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa kondisi ketahanan pangan nasional saat ini berada dalam posisi yang relatif aman dan terkendali.
Menurut Amran, kekuatan utama Indonesia terletak pada kemampuan produksi dalam negeri yang mandiri serta ketersediaan cadangan pangan yang melimpah. Hal ini merupakan buah dari sinergi antara kerja keras para petani di lapangan dengan kebijakan strategis pemerintah yang fokus pada penguatan produksi nasional.

"Kita patut bersyukur. Di saat banyak negara di dunia sedang dihantui ancaman krisis pangan dan gangguan rantai pasok akibat konflik global, Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat. Kita punya produksi sendiri, memiliki cadangan, dan terus berupaya memperkuat kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri," ujar Amran dalam keterangannya.
Kondisi ini menjadi kontras yang mencolok jika melihat situasi di berbagai negara lain. Saat ini, setidaknya ada 33 negara yang telah mengeluarkan peringatan resmi kepada warganya untuk mulai menimbun kebutuhan dasar di rumah. Negara-negara maju seperti Inggris dan Jepang bahkan telah memberikan imbauan agar setiap rumah tangga memiliki persediaan makanan, air minum, dan obat-obatan untuk minimal 72 jam sebagai langkah antisipasi terhadap gangguan distribusi global.
Menanggapi risiko tersebut, Amran menegaskan bahwa Indonesia telah menyiapkan berbagai skenario untuk menghadapi potensi gangguan, mulai dari konflik antarnegara, bencana alam, cuaca ekstrem, hingga serangan siber yang dapat melumpuhkan infrastruktur distribusi.
Data menunjukkan bahwa kekuatan stok pangan Indonesia sangat meyakinkan. Per akhir Oktober 2024, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum Bulog tercatat mencapai sekitar 4,5 juta ton. Selain itu, terdapat potensi sebesar 10 juta ton dari tanaman padi yang siap panen (standing crop), serta sekitar 10 juta ton stok yang tersebar di sektor perhotelan, restoran, dan katering (horeka).
Jika ditotal, ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai angka fantastis, yakni 25 juta ton. Angka ini sangat jauh melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang berada di kisaran 2,5 juta ton per bulan. "Dengan total stok sebesar itu, ketersediaan kita sangat kuat untuk menghadapi gejolak global apa pun," tambah Amran.
Lebih lanjut, Amran menekankan bahwa swasembada pangan bukan sekadar angka statistik, melainkan simbol kedaulatan sebuah bangsa. Ketergantungan pada impor dianggap sebagai risiko besar, terutama jika jalur perdagangan dunia terhambat akibat konflik bersenjata yang menyebabkan negara eksportir menutup keran pasokan mereka.
Untuk menjaga momentum ini, Kementerian Pertanian terus melakukan berbagai langkah konkret, seperti optimalisasi lahan pertanian, program pompanisasi, perbaikan sistem irigasi, hingga penyediaan benih unggul bagi petani. Pemerintah juga berkomitmen penuh untuk melindungi petani sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan pangan Indonesia.


