Faktual.news – Kawasan Asia Tenggara tengah menghadapi tantangan besar terkait ketahanan energi di masa depan. Berdasarkan laporan terbaru dari ASEAN Centre for Energy (ACE), kebutuhan energi primer di seluruh negara anggota ASEAN diprediksi akan melonjak drastis hingga mencapai angka 400 persen pada tahun 2060 mendatang. Fenomena ini menjadi alarm bagi pemerintah di kawasan ini untuk segera menyusun strategi transisi energi yang matang.
Proyeksi ambisius tersebut tertuang dalam laporan ASEAN Energy Outlook ke-9 yang dirilis oleh ACE. Peningkatan kebutuhan energi yang sangat masif ini dipicu oleh pertumbuhan ekonomi yang pesat serta peningkatan populasi di wilayah Asia Tenggara. Jika tidak dikelola dengan baik, lonjakan ini berpotensi mengancam stabilitas ekonomi dan lingkungan di kawasan tersebut.

Menanggapi tantangan tersebut, Head of Energy Modelling and Policy Planning ACE, Zulfikar Yurnadi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyusun berbagai skenario strategis untuk mengantisipasi lonjakan tersebut. Salah satu langkah krusial yang harus diambil adalah melalui program efisiensi energi secara masif.
Zulfikar menjelaskan bahwa efisiensi energi memiliki potensi besar untuk menekan angka kebutuhan energi primer. Jika dilakukan secara optimal, efisiensi ini mampu meredam hingga setengah dari proyeksi total peningkatan kebutuhan energi hingga tahun 2060. Namun, ia memberikan catatan penting bahwa langkah ini memerlukan komitmen finansial yang sangat besar.
"Kita memiliki peluang untuk mengurangi kebutuhan energi ini hingga setengahnya melalui efisiensi. Namun, konsekuensinya adalah nilai investasi yang dibutuhkan akan melonjak tajam. Kami memperkirakan kawasan ASEAN membutuhkan investasi sekitar US$400 miliar per tahun untuk mencapai target-target energi tersebut," ujar Zulfikar dalam sebuah diskusi di Jakarta.
Selain fokus pada efisiensi, skenario utama lainnya adalah dengan mempercepat pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT). Transisi dari energi fosil ke energi bersih menjadi kunci utama agar pertumbuhan ekonomi tetap berjalan tanpa merusak ekosistem lingkungan. Namun, implementasi EBT di Asia Tenggara tidaklah sederhana karena setiap negara memiliki karakteristik sumber daya alam yang berbeda-beda.
Zulfikar menekankan pentingnya penguatan koordinasi antarnegara anggota ASEAN. Tantangan terbesarnya adalah menyelaraskan kepentingan nasional masing-masing negara dengan kepentingan regional. Seringkali, kebijakan energi di satu negara tidak sejalan dengan visi energi kolektif ASEAN karena adanya perbedaan prioritas ekonomi dan ketersediaan sumber daya.
"Setiap negara memiliki kepentingan nasionalnya masing-masing, dan itulah tantangan utamanya. Tugas kita adalah meyakinkan Indonesia, Singapura, Malaysia, dan negara lainnya bahwa kepentingan nasional mereka sebenarnya berjalan beriringan dengan kepentingan regional," tambahnya.
Dengan koordinasi yang solid, diharapkan kawasan Asia Tenggara tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan energi yang melonjak, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi kawasan yang berbasis energi berkelanjutan dan ramah lingkungan.


