Faktual.news – Ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah terus memberikan dampak nyata terhadap stabilitas ekonomi global, terutama melalui fluktuasi harga minyak dunia yang tidak menentu. Menanggapi fenomena ini, pemerintah Indonesia melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah menyiapkan langkah strategis guna membentengi ketahanan energi nasional dari ketergantungan pada satu komoditas saja.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menegaskan bahwa kunci utama dalam menghadapi lonjakan harga minyak dunia adalah melakukan diversifikasi sumber energi. Langkah ini dinilai krusial agar Indonesia tidak terus-menerus terpapar risiko ekonomi akibat volatilitas harga minyak mentah di pasar internasional. Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah yang dapat dikonversi menjadi energi alternatif.

Salah satu fokus utama pemerintah saat ini adalah mengoptimalkan pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki potensi EBT yang sangat masif, yakni mencapai 3.687 gigawatt (GW). Potensi tersebut tersebar di berbagai sektor, mulai dari energi surya yang mendominasi sebesar 3.294 GW, tenaga air 95 GW, tenaga angin 155 GW, energi laut 63 GW, bioenergi 57 GW, hingga panas bumi sebesar 24 GW.
Namun, Djoko mengungkapkan bahwa pemanfaatan sumber daya alam yang luar biasa ini masih belum maksimal. Hingga saat ini, baru sekitar 17 persen dari total potensi EBT tersebut yang benar-benar telah dimanfaatkan untuk kebutuhan energi nasional. "Kita bisa menggunakan EBT. Kita sudah membuktikan keberhasilan pada program B50, misalnya. Dengan optimalisasi ini, kita tidak perlu khawatir lagi soal impor bahan bakar," ujar Djoko dalam sebuah diskusi televisi baru-baru ini.
Selain fokus pada energi surya dan angin, Djoko juga menyoroti potensi energi nuklir sebagai solusi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional. Ia meyakini bahwa Indonesia sudah memiliki kesiapan teknis dan regulasi untuk mengimplementasikan teknologi nuklir secara aman.
Menurutnya, energi nuklir memiliki keunggulan pada aspek efisiensi dan masa pakai investasi yang sangat panjang, yakni bisa mencapai 100 tahun. Integrasi energi nuklir diharapkan dapat menjadi tulang punggung penyediaan listrik nasional, yang nantinya akan mendukung ekosistem kendaraan listrik secara masif.
"Nuklir itu sekali investasi bisa untuk 100 tahun. Kita bisa menggunakan nuklir untuk menghasilkan listrik, dan listrik tersebut digunakan untuk menggerakkan kendaraan listrik. Kita bisa menjamin keamanannya," tambah Djoko.
Dengan kombinasi antara optimalisasi EBT dan eksplorasi energi nuklir, pemerintah optimistis Indonesia dapat bertransformasi menjadi negara yang mandiri energi. Langkah diversifikasi ini tidak hanya bertujuan untuk menekan angka impor minyak, tetapi juga sebagai bagian dari komitmen global dalam transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan.


