Faktual.news – Indonesia tengah menatap masa depan ekonomi biru melalui perlindungan warisan maritim yang tersimpan di dasar samudera. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan bahwa kekayaan laut Indonesia tidak hanya terbatas pada sumber daya alam yang dapat dieksploitasi, tetapi juga mencakup jejak sejarah dan budaya yang tersembunyi di bawah permukaan air.
Dalam upaya memperkuat perlindungan tersebut, KKP mendorong integrasi antara riset mendalam, pemetaan teknologi tinggi, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir. Masyarakat lokal diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga situs-situs maritim agar tetap lestari dan dapat memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menyampaikan bahwa laut adalah rumah bagi berbagai biota sekaligus penyimpan sejarah peradaban manusia. Menurutnya, pengelolaan warisan bawah laut yang tepat dapat bertransformasi menjadi destinasi wisata unggulan yang mendukung pengurangan dampak perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga pesisir.
"Kekayaan laut kita tidak sebatas sumber daya alam, tetapi juga mencakup warisan sejarah yang menjadi bagian dari identitas kita. Di beberapa wilayah, situs-situs bawah laut ini telah dikelola dengan sangat baik menjadi magnet wisata bahari," ujar Trenggono dalam sebuah kesempatan.
Sebagai langkah nyata, KKP mendukung penuh gelaran The 6th Asia-Pacific Conference on Maritime and Underwater Cultural Heritage (APCONF6) yang berlangsung di Denpasar, Bali. Forum internasional ini mengusung tema besar mengenai tradisi dan lintasan ekonomi biru di kawasan Asia-Pasifik. Acara ini menjadi ajang pertemuan bagi para peneliti, akademisi, pemerintah, komunitas adat, hingga investor global untuk berkolaborasi.
Senada dengan Menteri, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Irwan Meilano, memberikan contoh konkret melalui keberadaan bangkai kapal USAT Liberty di Tulamben, Bali. Kapal kargo milik Angkatan Darat Amerika Serikat yang karam tersebut kini menjadi bukti nyata bagaimana situs sejarah bawah air dapat berfungsi ganda: sebagai habitat biota laut sekaligus daya tarik wisata bahari yang bernilai tinggi.
Irwan menekankan bahwa di tengah tantangan perubahan iklim dan pencemaran laut, penguatan riset dan pemetaan situs menjadi sangat krusial. Ia juga menyoroti pentingnya kearifan lokal seperti sasi, Panglima Laot, dan awig-awig sebagai fondasi utama dalam pengelolaan laut yang bertanggung jawab.
Melalui pendekatan ekonomi biru, KKP berupaya menyelaraskan antara perlindungan ekosistem dan pertumbuhan ekonomi. Dengan menjaga warisan maritim, Indonesia tidak hanya melindungi identitas budaya, tetapi juga mengamankan masa depan ekonomi laut yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat pesisir.


