Close Menu
Faktual News

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Vietnam Bikin Kejutan Potong Pajak 30 Persen

    24-08-2026 - 08.20

    Imigran Iran Ini Sukses Besar di AS Hartanya Rp197 T

    24-08-2026 - 05.20

    BRImo Taiwan Bikin Hidup PMI Makin Mudah

    24-08-2026 - 02.20
    FacebookX (Twitter)Instagram
    Faktual NewsFaktual News
    • Home
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Esports
    • Dunia
    Trending
    • Vietnam Bikin Kejutan Potong Pajak 30 Persen
    • Imigran Iran Ini Sukses Besar di AS Hartanya Rp197 T
    • BRImo Taiwan Bikin Hidup PMI Makin Mudah
    • Jalan NTT Ambles PU Gerak Cepat
    • Tangga Lipat Aluminium Praktis Harga Anjlok
    • Jangan Lewatkan BNI WondrX Jumpa Idola Bulu Tangkis
    • Transmart Hari Ini Diskon Gila Jangan Ketinggalan
    • Ekonomi Syariah RI Siap Meledak Ini Kuncinya
    Faktual News
    Home - Market - Kementan Wanti Wanti Bahaya Obat Manusia di Kebun
    Market

    Kementan Wanti Wanti Bahaya Obat Manusia di Kebun

    20-06-2026 - 21.2103 Mins Read3
    kementan wanti wanti bahaya obat manusia di kebun

    faktual.news – Kementerian Pertanian (Kementan) akhirnya angkat bicara menanggapi video yang viral di media sosial, menampilkan petani menggunakan paracetamol dan vitamin B kompleks untuk memacu pertumbuhan tanaman cabai mereka. Praktik tak lazim ini memicu perdebatan luas di kalangan warganet dan praktisi pertanian.

    Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Agung Sanusi, menegaskan bahwa pihaknya secara konsisten menganjurkan penggunaan pupuk, pestisida, dan zat pengatur tumbuh yang telah terdaftar resmi, memiliki dasar ilmiah kuat, serta mengantongi izin edar yang sah untuk sektor pertanian. Ia secara gamblang menyatakan, "Penggunaan obat-obatan yang ditujukan untuk manusia, seperti paracetamol maupun vitamin B kompleks pada tanaman, belum memiliki rekomendasi resmi dalam praktik budidaya cabai di Indonesia."

    Kementan Wanti Wanti Bahaya Obat Manusia di Kebun
    Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

    Agung menduga, tren ini kemungkinan besar muncul dari pengalaman empiris sebagian petani atau informasi yang menyebar cepat di platform media sosial. Namun, hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang memadai yang mampu menunjukkan bahwa paracetamol dapat secara konsisten, aman, dan ekonomis meningkatkan produktivitas cabai di lapangan. Oleh karena itu, praktik semacam ini tidak dapat dijadikan pedoman budidaya yang direkomendasikan secara resmi.

    Kementan pun memberikan peringatan keras mengenai potensi risiko jika penggunaan obat manusia pada tanaman dilakukan secara luas tanpa landasan ilmiah dan pengawasan ketat. Pertama, ada kekhawatiran akan timbulnya residu senyawa farmasi di lingkungan, yang berpotensi masuk ke dalam rantai pangan jika digunakan secara berlebihan. Kedua, praktik ini dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme tanah dan ekosistem pertanian secara keseluruhan.

    Ketiga, penggunaan obat manusia pada tanaman bisa menciptakan persepsi keliru di masyarakat, seolah-olah obat-obatan tersebut bisa menggantikan input pertanian yang telah melalui proses registrasi dan pengujian ketat. Keempat, terdapat risiko pemborosan biaya produksi bagi petani, mengingat efektivitasnya belum terbukti secara ilmiah. Terakhir, beberapa riset internasional memang menunjukkan bahwa tanaman mampu menyerap paracetamol dari media tanam dan mengakumulasikannya dalam jaringan tanaman pada kondisi tertentu. Namun, penelitian ini umumnya dilakukan di laboratorium dan belum menjadi dasar untuk merekomendasikannya dalam budidaya pertanian. "Sejauh ini, belum ada kajian resmi di Indonesia yang merekomendasikan paracetamol sebagai sarana produksi pertanian," imbuh Agung.

    Menanggapi narasi dalam video viral yang menyebut petani terpaksa memakai paracetamol karena mahalnya pupuk akibat kurs rupiah yang melemah, Agung Sanusi mengakui bahwa fluktuasi nilai tukar memang dapat mempengaruhi harga sebagian bahan baku industri pupuk dan pestisida. Ia menambahkan, "Fenomena penggunaan paracetamol dan vitamin B kompleks pada cabai kemungkinan didorong oleh upaya petani mencari alternatif murah di tengah tingginya biaya produksi."

    Meski demikian, Kementan kembali menegaskan bahwa praktik tersebut, dari sudut pandang ilmiah dan kebijakan, belum memiliki dasar rekomendasi resmi. "Sebaiknya tidak dipopulerkan sebelum tersedia hasil penelitian komprehensif mengenai efektivitas, keamanan, dampak lingkungan, serta potensi residunya pada hasil panen," tegas Agung.

    Pemerintah, melalui Kementan, terus berupaya keras menjaga pasokan dan keterjangkauan sarana produksi pertanian. Koordinasi intensif dilakukan dengan produsen, distributor, dan pemerintah daerah untuk memastikan kebutuhan petani tetap terpenuhi. "Pemerintah akan terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan sarana produksi pertanian," pungkas Agung, menjamin komitmen pemerintah terhadap kesejahteraan petani.

    Ikuti Kami di Google News
    Share.FacebookTelegramWhatsAppCopy Link
    Putrawan Dian
    Putrawan Dian

      kontributor Faktual News yang mengkhususkan diri dalam pelaporan kategori Market dan Ekonomi Makro. Ia menyajikan analisis mendalam mengenai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar Rupiah, dan kebijakan moneter yang memengaruhi pasar keuangan.

      Baca Juga

      Vietnam Bikin Kejutan Potong Pajak 30 Persen

      24-08-2026 - 08.20

      Imigran Iran Ini Sukses Besar di AS Hartanya Rp197 T

      24-08-2026 - 05.20

      BRImo Taiwan Bikin Hidup PMI Makin Mudah

      24-08-2026 - 02.20

      Jalan NTT Ambles PU Gerak Cepat

      23-08-2026 - 21.20

      Tangga Lipat Aluminium Praktis Harga Anjlok

      23-08-2026 - 18.20

      Jangan Lewatkan BNI WondrX Jumpa Idola Bulu Tangkis

      23-08-2026 - 14.20
      Add A Comment
      Leave A ReplyCancel Reply

      Recent Posts

      • Vietnam Bikin Kejutan Potong Pajak 30 Persen
      • Imigran Iran Ini Sukses Besar di AS Hartanya Rp197 T
      • BRImo Taiwan Bikin Hidup PMI Makin Mudah
      • Jalan NTT Ambles PU Gerak Cepat
      • Tangga Lipat Aluminium Praktis Harga Anjlok

      Recent Comments

      Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

      Archives

      • Agustus 2026
      • Juli 2026
      • Juni 2026
      • Mei 2026
      • April 2026
      • Maret 2026
      • Februari 2026
      • Januari 2026
      • Desember 2025
      • November 2025
      • Oktober 2025
      • September 2025
      • Agustus 2025
      • Juli 2025
      • Juni 2025
      • Mei 2025
      • April 2025

      Categories

      • Dunia
      • Esports
      • Market
      • Olahraga
      • Sepakbola
      Faktual News
      • Home
      • Redaksi
      • Pedoman Media Siber
      • Privacy Policy
      • Disklaimer
      • Kontak
      • Tentang Kami
      © 2026 faktual.news | KR Network

      Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.