faktual.news – Mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, kembali menorehkan jejak gemilang di panggung global. Ia kini secara resmi dipercaya oleh Bank Dunia untuk mengemban tugas sebagai Ketua Bersama Independen Asosiasi Pembangunan Internasional (IDA) dalam upaya pengisian kembali pendanaan ke-22. Penunjukan ini menempatkan Sri Mulyani pada posisi strategis untuk menggalang dukungan kebijakan serta finansial demi membantu negara-negara paling rentan di dunia.
Bank Dunia, dalam pernyataan resminya dari Washington AS pada Senin (3/8), mengungkapkan bahwa Sri Mulyani akan memimpin proses penting IDA22 ini bersama Paschal Donohoe, yang menjabat sebagai Managing Director sekaligus Chief Knowledge Officer Grup Bank Dunia. Pemilihan Sri Mulyani sendiri melalui proses seleksi ketat oleh komite pencarian yang melibatkan perwakilan dari negara-negara donor dan peminjam, menegaskan pengakuan atas kapabilitasnya.

Dalam perannya yang baru, Sri Mulyani akan berfokus pada penguatan dukungan kebijakan dan pendanaan IDA22 dari berbagai negara donor maupun peminjam. Bank Dunia secara khusus menyoroti pengalaman luas Sri Mulyani di bidang pembiayaan pembangunan internasional, menjadikannya figur yang sangat mumpuni untuk tugas ini.
Mengenal lebih jauh tentang IDA, lembaga ini merupakan salah satu pilar utama Bank Dunia yang didirikan pada tahun 1960. IDA dikenal sebagai penyedia dana terbesar di dunia untuk memberantas kemiskinan ekstrem di negara-negara berpenghasilan rendah. Mereka menawarkan pinjaman dengan bunga nol atau sangat rendah, bahkan juga memberikan hibah, sebagai bentuk dukungan krusial.
Melalui situs resminya, IDA World Bank menjelaskan misinya yang berpusat pada pengurangan kemiskinan, pendorong pertumbuhan ekonomi, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat di negara-negara yang dilayaninya. Saat ini, IDA melayani 78 negara dan telah menjadi penyedia layanan sosial dasar terbesar bagi mereka.
Selama lebih dari enam dekade berkiprah, IDA telah menjadi mitra vital bagi negara-negara berpenghasilan rendah, mempelopori solusi untuk berbagai tantangan pembangunan global yang kompleks. Berkat intervensi dan dukungan IDA, jutaan individu berhasil keluar dari jerat kemiskinan. Ini terwujud melalui penciptaan lapangan kerja, akses terhadap air bersih, fasilitas pendidikan, infrastruktur jalan, peningkatan gizi, hingga ketersediaan listrik.
Pendekatan IDA sangat unik, menempatkan negara penerima bantuan sebagai pemimpin utama dalam menentukan arah pembangunan mereka sendiri, dengan tujuan akhir mencapai kemandirian finansial. Keberhasilan program ini terbukti dari 35 negara yang telah berhasil "lulus" dari status peminjam IDA. Beberapa di antaranya kini menjelma menjadi kekuatan ekonomi global yang dinamis, seperti Tiongkok, India, Korea Selatan, dan Vietnam.
Ketika negara-negara yang dulunya menerima bantuan kini berbalik menjadi negara donor, hal tersebut bukan hanya menjadi bukti keberhasilan IDA, melainkan juga tonggak penting bagi pembangunan global dan upaya tak kenal lelah dalam mengentaskan kemiskinan di seluruh dunia.


