faktual.news – Fenomena menarik melanda dunia pendidikan tinggi Amerika Serikat. Sejumlah universitas terkemuka kini membuka program studi khusus kreator konten, merespons gelombang minat generasi muda yang mendambakan karier di ranah digital dan media sosial. Ini bukan lagi sekadar hobi, melainkan jalur akademik yang serius dan menjanjikan.
Arizona State University (ASU) menjadi salah satu pelopor dengan menawarkan program sarjana di bidang penciptaan konten. Jurusan ini dirancang untuk membimbing mahasiswa agar mampu memonetisasi kanal digital mereka dan membangun karier yang kokoh melalui platform online. Di situs resminya, ASU secara eksplisit menyatakan program ini diperuntukkan bagi mereka yang "bermimpi menghasilkan uang dari kanal video atau menjadikan media sosial sebagai profesi utama."

Langkah serupa juga diambil Syracuse University, yang mulai musim gugur ini meluncurkan program minor lintas disiplin. Kurikulumnya dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan esensial dalam karier kreator konten, kewirausahaan digital, hingga industri pendukung ekonomi kreator yang terus bertumbuh pesat.
Pergeseran fokus pendidikan ini mencerminkan perubahan aspirasi karier generasi Z. Di tengah pasar kerja yang semakin kompetitif, bayang-bayang kecerdasan buatan (AI) yang terus merambah berbagai sektor, serta ketidakpastian peluang bagi lulusan baru, profesi kreator konten tampil sebagai magnet. Bank investasi Goldman Sachs bahkan memproyeksikan nilai ekonomi kreator secara global dapat mencapai angka fantastis hampir US$500 miliar, atau setara Rp9.017,50 triliun, pada tahun 2027.
Program-program ini tidak hanya fokus pada "menjadi influencer" semata. Mahasiswa ASU, misalnya, juga dipersiapkan untuk bekerja di bidang brand storytelling, produksi podcast, hingga penciptaan konten digital. Beberapa mata kuliah yang ditawarkan bahkan mencakup "How to Become an Influencer" dan proyek akhir di Los Angeles Content Creation Studio milik kampus.
Direktur Eksekutif Center for the Creator Economy Syracuse University, Ryan Schram, menegaskan bahwa minat mahasiswa terhadap industri kreator terus melonjak, meskipun tidak semuanya bercita-cita menjadi figur publik di depan kamera. Menurut Schram, ekonomi kreator telah membuka beragam profesi baru yang bahkan belum dikenal satu dekade silam.
Pentingnya jejak digital dan personal branding juga disorot oleh Dylan Huey, pendiri organisasi REACH. Ia menyebut, reputasi dan kehadiran seseorang di dunia digital kini menjadi nilai tambah signifikan di dunia kerja, bahkan bagi mereka yang tidak berprofesi sebagai kreator konten. Hal ini berlaku pula di platform profesional seperti LinkedIn, di mana jaringan dan branding pribadi bisa menjadi kunci mendapatkan peluang pekerjaan.
Namun, di balik gemerlapnya potensi, para akademisi mengingatkan bahwa jalan menuju kesuksesan di dunia kreator konten tidak selalu mulus. Profesor komunikasi Cornell University, Brooke Erin Duffy, menyoroti bahwa meskipun popularitas profesi ini melonjak sejak pandemi COVID-19 dan mencapai puncaknya pada 2024, hanya sebagian kecil kreator yang benar-benar mampu memperoleh pendapatan besar. Kisah sukses luar biasa seringkali hanya puncak gunung es; banyak kreator yang berjuang keras hanya untuk bertahan hidup dari pekerjaannya.
Associate Professor University of Southern California, Freddy Tran Nager, menambahkan bahwa industri influencer kini sangat padat dan kompetitif. Ia bahkan menyamakan peluang sukses menjadi influencer dengan sulitnya meniti karier sebagai seorang aktor. Oleh karena itu, ia menyarankan calon kreator konten untuk tetap memiliki keahlian atau bidang studi lain sebagai bekal menghadapi persaingan yang semakin ketat dan laju perkembangan AI yang tak terhindarkan.


