Faktual.news – Pasar modal Indonesia kembali diguncang arus pelemahan yang cukup signifikan pada perdagangan Jumat pagi (30/10). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau merosot tajam hingga menyentuh level psikologis yang mengkhawatirkan para pelaku pasar. Berdasarkan data pergerakan indeks, IHSG mengalami koreksi sebesar 104,12 poin atau setara dengan penurunan 2,04 persen, yang membawa posisi indeks ke level 4.993.
Pergerakan pasar sejak pembukaan sesi pagi sebenarnya sempat menunjukkan optimisme. IHSG dibuka pada level 5.066 dan sempat melesat naik hingga mencapai titik tertinggi di level 5.116. Namun, momentum penguatan tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual yang masif membuat indeks berbalik arah secara drastis, bahkan sempat menyentuh level terendah di angka 4.979.

Berdasarkan data RTI Infokom hingga pukul 09.34 WIB, aktivitas perdagangan di bursa menunjukkan volume transaksi yang cukup besar, yakni mencapai 13,03 miliar saham dengan nilai transaksi menyentuh angka Rp2,93 triliun. Frekuensi perdagangan yang tercatat sebanyak 358.073 kali mencerminkan tingginya volatilitas pasar di tengah ketidakpastian ini. Kondisi pasar saat ini didominasi oleh sentimen negatif, di mana sebanyak 609 saham mengalami penurunan harga, sementara hanya 79 saham yang mampu bertahan di zona hijau, dan 72 saham lainnya bergerak stagnan.
Fenomena ini diperparah dengan aksi jual bersih yang dilakukan oleh investor asing. Data menunjukkan adanya aliran modal keluar (outflow) dari investor asing dengan nilai jual bersih mencapai Rp1,08 triliun di seluruh pasar. Jika dirinci, pada pasar reguler saja, investor asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp1,52 triliun. Meskipun di pasar negosiasi dan pasar tunai terdapat aksi beli bersih senilai Rp441,74 miliar, hal tersebut belum cukup kuat untuk membendung tekanan jual di pasar reguler.
Dari sisi komposisi transaksi, investor asing mencatatkan penjualan sebanyak 5,7 miliar saham (12,31%) berbanding dengan pembelian 4,9 miliar saham (10,57%). Di sisi lain, investor domestik mencoba menjaga stabilitas dengan melakukan pembelian sebanyak 18,4 miliar saham (39,43%) dan melakukan penjualan sebesar 17,5 miliar saham (37,69%).
Beberapa saham berkapitalisasi besar turut memberikan kontribusi pada pelemahan indeks. Saham perbankan raksasa seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 0,61 persen ke level Rp4.910, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang merosot 2,14 persen ke Rp2.750. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga tidak luput dari tekanan dengan penurunan 0,81 persen ke level Rp3.690.
Di sektor lain, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah 4,13 persen ke Rp116, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) anjlok 5,56 persen ke Rp1.275. Namun, di tengah badai merah tersebut, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) justru menunjukkan performa gemilang dengan menguat 5,76 persen ke level Rp1.285. Sementara itu, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) justru berhasil mencatatkan kenaikan tipis sebesar 4,35 persen ke level Rp24.


