Faktual News Jakarta – Euforia Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) di level 9.174,47 pada 20 Januari 2026, menghadirkan kewaspadaan bagi para investor. Setelah reli panjang, IHSG terkoreksi 1,36% ke level 9.010,33 pada 21 Januari 2026, memicu peringatan akan potensi jebakan psikologis.
Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), mengingatkan investor untuk mewaspadai fear of missing out (FOMO), overconfidence, dan performance chasing yang kerap muncul saat pasar mencapai ATH. Bias perilaku ini berpotensi menggerus keuntungan investasi akibat keputusan buy high, sell low.

"Agen penjual reksa dana juga mengingatkan bahwa market timing sulit bahkan bagi profesional, strategi yang lebih andal adalah investasi berkala (Dollar Cost Averaging/DCA) dan diversifikasi lintas aset, terutama saat emosi memanas," ujar Dimas dalam risetnya.
Dimas menekankan pentingnya disiplin alokasi aset dan time in the market. Melewatkan hari-hari terbaik pasar dapat berdampak signifikan pada penurunan imbal hasil investasi. Rebound pasar seringkali terjadi dengan cepat, sehingga absen pada momen krusial dapat memangkas potensi keuntungan secara drastis.
ATH, menurut Dimas, bukanlah sinyal otomatis untuk menjual. Sebaliknya, koreksi pasar juga bukan serta merta menjadi sinyal untuk membeli tanpa analisis yang matang.
"Pemahaman perbedaan metodologi indeks, kesadaran akan bias perilaku, dan komitmen pada proses DCA, diversifikasi, rebalancing adalah kunci menerjemahkan rekor pasar menjadi hasil investasi yang lebih konsisten," tegas Dimas.
Diversifikasi lintas aset dan strategi, termasuk kombinasi saham berkapitalisasi besar, obligasi, dan pasar uang sesuai profil risiko, menjadi kunci penting. Strategi DCA membantu investor menghindari overtrading dan menormalkan harga masuk saat euforia pasar. Sementara itu, rebalancing berkala berfungsi mengamankan sebagian keuntungan dari aset yang telah melonjak dan mengalihkan dana ke aset yang kinerjanya tertinggal.
Investor juga perlu memahami dispersi, yaitu perbedaan kinerja antara IHSG, LQ45, dan reksa dana saham. Perbedaan ini mencerminkan perbedaan komposisi dan metodologi indeks, bukan kegagalan strategi investasi. Ketika pasar berotasi dari saham high momentum ke saham quality atau blue chips, selisih kinerja tersebut berpotensi menyempit kembali.

