Faktual News – Pasar modal Indonesia dikejutkan oleh volatilitas ekstrem pada Kamis (29/1/2026), ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat ambruk parah hingga memicu trading halt. Namun, di tengah kekhawatiran, indeks kebanggaan ini menunjukkan pemulihan dramatis, menutup perdagangan di level 8.232,20, meski masih mencatat pelemahan tipis 1,06 persen. Peristiwa ini langsung mendapat sorotan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang mengungkapkan rasa syukurnya atas respons cepat pemerintah.
Berdasarkan data dari RTI Business, sesi perdagangan hari itu benar-benar menguji mental investor. IHSG sempat anjlok lebih dari 10 persen, menyentuh titik terendah di 7.481,98, sebuah level yang memicu mekanisme trading halt untuk meredam kepanikan. Namun, berkat intervensi dan sentimen positif yang muncul di sesi berikutnya, indeks berhasil berbalik arah secara signifikan sebelum bel penutupan berbunyi.
Menanggapi gejolak pasar yang nyaris mengguncang fondasi bursa, Menko Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemulihan IHSG tak lepas dari langkah sigap dan koordinasi erat antara pemerintah dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Alhamdulillah wa syukurilah, IHSG pulih. Ini faktor karena pemerintah merespons cepat dan tadi dengan OJK sudah kita bahas mengenai mekanisme berikutnya," ujar Airlangga saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (29/1/2026). Pernyataan ini memberikan sinyal kuat akan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar modal.
Lebih lanjut, Airlangga membeberkan salah satu strategi jangka panjang yang tengah digodok untuk memperkuat fundamental pasar. Rencana penerbitan aturan free float minimal 15 persen oleh OJK dan self-regulatory organization (SRO) diyakini akan menjadi pilar penting dalam memperbaiki tata kelola dan meningkatkan transparansi. "Tahap ini cukup. Tapi dalam 15 persen juga harus transparan," tegasnya, menekankan pentingnya keterbukaan di setiap aspek.
Aturan free float ini, menurut Airlangga, bukan sekadar angka. Keterbukaan data mengenai kepemilikan saham yang beredar bebas di publik akan secara gamblang memperjelas struktur kepemilikan. Implikasinya, ini akan sangat efektif dalam memitigasi praktik-praktik saham gorengan yang kerap merugikan investor. "Dalam langkah transparansi daripada free float siapa saja itu kan kelihatan. Jadi itu sudah memitigasi saham gorengan," pungkasnya, menandaskan upaya pemerintah untuk menciptakan pasar yang lebih sehat dan adil.
