Faktual News – Pasar modal Indonesia tengah diuji. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan tren pelemahan, membuat investor bertanya-tanya kapan tekanan ini akan mereda. Bukan hanya gejolak geopolitik global yang memicu ketidakpastian, sentimen negatif dari lembaga pemeringkat kredit internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia juga turut memperkeruh suasana di bursa domestik.
Muhammad Farras Farhan, Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menyoroti satu faktor krusial yang kini menjadi pusat perhatian pelaku pasar. "Memang katalis saat ini, terutama di pasar ekuitas, tertuju pada hasil keputusan MSCI di bulan April atau Mei. Apabila ada kejelasan dari MSCI itu sendiri, maka itu dapat menjadi salah satu katalis positif bagi pasar ekuitas kita," ungkap Farhan dalam sebuah paparan virtual, Selasa, 10 Maret 2026.

Farhan menjelaskan, pasar modal Tanah Air kini menghadapi apa yang disebutnya sebagai "tiga ancaman" (triple threat). Pertama, adanya evaluasi mendalam dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait posisi pasar saham Indonesia dalam indeks global mereka. Kedua, tekanan juga datang dari perubahan outlook oleh lembaga pemeringkat internasional terkemuka. Moody’s Ratings dan Fitch Ratings diketahui telah merevisi prospek ekonomi Indonesia dari ‘stabil’ pada tahun 2025 menjadi ‘negatif’ untuk tahun 2026.
Meski demikian, Farhan optimistis bahwa kemungkinan penurunan peringkat pasar saham Indonesia hingga masuk kategori frontier market relatif sangat kecil. "Kalaupun terjadi (penurunan peringkat), probabilitasnya relatif kecil, bisa dibilang di bawah 10 persen. Dan memang kita lebih mengespektasikan akan adanya downweight. Itu yang memang sudah kita ekspektasikan pada momentum ini," jelasnya, menenangkan kekhawatiran investor.
Lebih lanjut, Farhan meyakini bahwa potensi downweight dari MSCI tidak akan memberikan dampak yang terlalu signifikan terhadap pasar saham domestik. Hal ini karena ada beberapa katalis positif yang siap menopang kinerja pasar modal ke depan. Salah satunya adalah kebijakan baru yang memungkinkan perusahaan dana pensiun dan asuransi untuk meningkatkan alokasi investasi mereka di pasar saham, berpotensi hingga 20 persen dari total aset.
"Memang yang saat ini dibutuhkan katalis di pasar ekuitas RI lebih kepada investability issue. Karena, bila kita bicara secara fundamental, banyak perusahaan mengespektasikan akan ada pertumbuhan di tahun ini dibandingkan tahun lalu," tegas Farhan, menggarisbawahi pentingnya daya tarik investasi dan fundamental perusahaan sebagai pilar utama pertumbuhan pasar.
(Steven Widjaja)
