Faktual News Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada Rabu, 11 Juni 2025, menutup perdagangan di angka 7.222,45. Meskipun dibuka sedikit lebih tinggi di 7.230,74, IHSG akhirnya terkoreksi 0,11 persen. Namun, di balik warna merah tersebut, tersimpan beberapa kejutan yang menarik perhatian pelaku pasar.
Data RTI Business mencatat pergerakan yang dinamis. Sebanyak 256 saham mengalami koreksi, sementara 336 saham lainnya menguat, dan 214 saham stagnan. Volume perdagangan terbilang tinggi, mencapai 31,46 miliar saham dengan frekuensi transaksi 1,43 juta kali, menghasilkan nilai transaksi yang fantastis, yaitu Rp18,33 triliun.

Meskipun IHSG melemah, mayoritas indeks sektoral justru menunjukkan performa positif. Sektor bahan baku memimpin dengan kenaikan 2 persen, disusul sektor transportasi (1,43 persen), teknologi (1,07 persen), properti (1 persen), dan energi (0,65 persen). Sektor non-siklikal, siklikal, kesehatan, industri, dan infrastruktur juga mencatatkan penguatan, masing-masing sebesar 0,61 persen, 0,48 persen, 0,45 persen, 0,30 persen, dan 0,03 persen. Hanya sektor keuangan yang sedikit tertekan, turun 0,30 persen, dipengaruhi oleh pelemahan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 0,55 persen.
Di tengah pelemahan IHSG, beberapa saham justru menjadi bintang. Saham-saham seperti PT Merdeka Battery Minerals Tbk (MBMA), PT Sentul City Tbk (BKSL), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) masuk dalam daftar top gainers. Sebaliknya, PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN), PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi top losers. Menariknya, tiga saham yang paling aktif diperdagangkan adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Merdeka Battery Minerals Tbk (MBMA), menunjukkan minat investor yang tinggi pada saham-saham tersebut. Pergerakan IHSG hari ini menunjukkan kompleksitas pasar modal yang dinamis, di mana sektoral tertentu mampu melawan tren negatif secara keseluruhan.
