Faktual News – Jakarta. Pembukaan perdagangan saham pada Selasa (13/2) pagi diwarnai dengan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Tepat pukul 09.00 WIB, indeks acuan ini tercatat melemah 0,47 persen, menempatkannya di level 8.226,20, turun signifikan dari posisi penutupan sebelumnya di 8.265,35 poin.
Data dari RTI Business menunjukkan aktivitas pasar yang cukup dinamis meskipun indeks bergerak di zona merah. Sebanyak 867,13 juta saham berpindah tangan dalam 79 ribu kali transaksi, dengan total nilai mencapai Rp448,42 miliar. Mayoritas saham, yakni 217 emiten, mengalami koreksi. Sementara itu, 184 saham berhasil menguat, dan 245 saham lainnya tidak menunjukkan perubahan signifikan.
/vidio-media-production/uploads/video/image/8043699/2-alasan-iran-dituding-as-sebagai-dalang-di-balik-serangan-houthi-di-laut-merah-71b2fa.jpg)
Koreksi pada pembukaan hari ini sebenarnya sudah diprediksi oleh para analis. Ratih Mustikoningsih, Financial Expert dari Ajaib Sekuritas, sebelumnya memperkirakan bahwa IHSG akan bergerak melemah pada hari ini, dengan rentang pergerakan antara 8.150 hingga 8.300. Prediksi ini muncul setelah IHSG pada perdagangan Senin (12/2) sempat ditutup menguat 0,31 persen atau naik 25,61 poin ke level 8.265.
Menurut Ratih, pergerakan IHSG hari ini banyak dipengaruhi oleh sentimen dari dalam negeri. Salah satu faktor utamanya adalah aksi profit taking yang melanda pasar, sejalan dengan arus keluar (outflow) investor asing. Tercatat, investor asing melakukan net sell sebesar Rp1,48 triliun pada 13 Februari, menambah total outflow secara year-to-date menjadi Rp14,46 triliun.
Selain itu, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada sejumlah emiten besar yang akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Sebagai contoh, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dijadwalkan akan mengadakan RUPST pada 12 Maret 2025. Agenda penting dalam rapat tersebut meliputi persetujuan penggunaan laba bersih, pembagian dividen, serta rencana pembelian kembali atau buyback saham hingga Rp5 triliun dalam 12 bulan ke depan setelah RUPST.
Sentimen negatif juga datang dari kancah global. Bursa saham utama Wall Street kompak terkoreksi pada 12 Februari. Indeks Nasdaq anjlok 2,04 persen, dan S&P 500 melemah 1,57 persen. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap rilis data inflasi yang diperkirakan masih di atas target, ditambah dengan data tenaga kerja yang kurang menggembirakan.
Ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga yang berpotensi tetap tinggi turut memukul harga komoditas. Harga emas, misalnya, terkoreksi ke level USD4.921 per ons pada 12 Februari. Mengikuti jejak Wall Street, bursa Asia Pasifik juga dibuka melemah pada 13 Februari. Indeks Nikkei 225 Jepang merosot 0,82 persen, sementara S&P/ASX 200 Australia melemah 1,22 persen.
Editor: Galih Pratama
