Faktual News – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan sesi I pada hari Selasa (13/2) dengan performa yang kurang menggembirakan. Bursa saham domestik terpaksa ditutup melemah, parkir di level 8.218,56, setelah sebelumnya sempat dibuka pada posisi 8.265,35. Pelemahan ini mencatatkan koreksi sebesar 0,57 persen dari pembukaan.
Berdasarkan data yang dihimpun dari RTI Business, aktivitas perdagangan pasar saham hari ini cukup ramai namun didominasi oleh aksi jual. Tercatat sebanyak 28,40 miliar saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan mencapai 1,76 juta kali. Total nilai transaksi yang berhasil dibukukan mencapai angka Rp12,36 triliun.

Sentimen negatif tampak mendominasi pergerakan saham, di mana sebanyak 368 saham terpantau terkoreksi. Meski demikian, di tengah tekanan jual, masih ada 287 saham yang mampu menguat, sementara 161 saham lainnya memilih untuk tetap stagnan tanpa perubahan berarti.
Mayoritas sektor industri juga tak luput dari tekanan jual yang terjadi. Sektor infrastruktur dan kesehatan sama-sama mencatatkan penurunan signifikan sebesar 0,88 persen. Disusul oleh sektor bahan baku yang merosot 0,81 persen, dan sektor keuangan yang terkoreksi 0,77 persen. Sektor teknologi juga ikut terseret arus pelemahan dengan minus 0,61 persen, diikuti sektor non-siklikal (-0,48 persen) dan properti (-0,12 persen).
Namun, tidak semua sektor bernasib sama. Beberapa di antaranya justru mampu menjadi penopang di tengah gejolak pasar. Sektor transportasi tampil perkasa dengan lonjakan 1,79 persen. Kinerja impresif juga ditunjukkan oleh sektor siklikal yang naik 1,61 persen, disusul sektor energi yang menguat 1,37 persen, dan sektor industrial yang berhasil meningkat 0,78 persen.
Pelemahan IHSG ini sejalan dengan tren yang terjadi di bursa-bursa utama Asia. Indeks Nikkei 225 Tokyo terpantau turun 0,63 persen, Shanghai Composite Index di Shanghai merosot 0,70 persen, sementara Hang Seng Index Hong Kong menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan mencapai 1,79 persen. Kondisi ini mengindikasikan adanya sentimen pasar global yang kurang kondusif pada hari ini.

