Faktual News – Gejolak geopolitik di Timur Tengah, menyusul potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, kini menjadi sorotan utama yang berpotensi mengguncang stabilitas pasar keuangan global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia tak luput dari ancaman volatilitas dalam jangka pendek, demikian peringatan dari seorang analis pasar terkemuka.
Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menegaskan bahwa ketegangan ini secara inheren akan memicu fluktuasi tajam pada IHSG. Menurutnya, koreksi harga yang wajar dan fase konsolidasi bearish merupakan respons alamiah pasar terhadap sentimen negatif global yang kuat. "Jelas akan memicu volatilitas bagi IHSG. Akan ada koreksi wajar dan fase konsolidasi bearish dalam jangka pendek," ungkap Nafan saat dihubungi Faktual News baru-baru ini.

Kendati demikian, Nafan melihat sisi lain dari gejolak ini: sebuah jendela peluang bagi investor cerdas. Saat pasar terkoreksi, banyak saham berkualitas tinggi yang berpotensi "didiskon" harganya. Ia menyarankan investor untuk jeli mencermati emiten dengan fundamental yang kokoh dan prospek bisnis yang menjanjikan. Sektor energi dan komoditas berbasis logam dasar, khususnya, diproyeksikan menjadi pilihan defensif yang menarik. Kenaikan harga energi global dapat mendongkrak keuntungan emiten minyak dan gas, sementara lonjakan permintaan terhadap emas dan logam mulia lainnya berpotensi mengangkat kinerja saham-saham pertambangan logam.
Lebih lanjut, Nafan menyoroti dampak konflik ini terhadap pasokan minyak global. Ketidakpastian membayangi distribusi energi strategis dunia, terutama mengingat ancaman Iran terhadap jalur-jalur vital. "Konflik ini pasti meningkatkan ketidakpastian terhadap pasokan minyak global. Jika harga minyak dunia naik, otomatis akan mendorong inflasi global," tegasnya. Ia menambahkan, Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menjadi titik krusial. Gangguan pada jalur ini akan serta-merta memicu lonjakan harga energi yang sulit dibendung.
Bagi Indonesia, sebagai negara net importir minyak, lonjakan harga energi global adalah kabar buruk. Potensinya untuk memperlebar defisit neraca perdagangan dan memicu inflasi domestik sangat nyata. Peningkatan biaya energi dan logistik akan secara langsung menggerus daya beli masyarakat dan menekan margin keuntungan sektor usaha. Kondisi ini juga memperkuat argumen bagi Bank Sentral untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer), guna menahan laju inflasi dan mencegah arus modal keluar (capital outflow) yang masif menuju aset safe haven seperti emas dan perak.
Imbasnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah pun menjadi tak terelakkan. Pelemahan mata uang Garuda ini berpotensi memicu inflasi impor dan memperberat beban pembayaran utang luar negeri. Namun, di tengah bayang-bayang tantangan ini, Nafan tetap menyuarakan optimisme terhadap ketahanan ekonomi Indonesia. Ia meyakini pertumbuhan ekonomi nasional masih mampu bertahan di kisaran 5 persen, didukung oleh konsumsi domestik yang solid. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut saya masih bisa bertahan di sekitar 5 persen karena konsumsi domestik relatif kuat. Namun kita harus bersiap menghadapi kenaikan harga energi dan tekanan inflasi," pungkasnya.
Oleh karena itu, bagi investor, disiplin dalam manajemen risiko dan analisis fundamental menjadi kunci. Nafan juga mengingatkan untuk memanfaatkan setiap momentum positif, seperti potensi perundingan damai atau gencatan senjata, yang dapat memulihkan sentimen pasar secara signifikan.
