Faktual News Pasar saham Indonesia kembali menunjukkan performa kurang menggembirakan. Penutupan perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 16 Juni 2025 menorehkan penurunan 0,68 persen, mengunci posisi di angka 7.117,59 setelah dibuka di level 7.158,90. Data dari RTI Business mencatat 388 saham terkoreksi, sementara 232 saham menguat dan 186 saham stagnan. Nilai transaksi harian tercatat cukup signifikan, mencapai Rp14,97 triliun dengan volume perdagangan 24,62 miliar saham dan 1,49 juta kali frekuensi transaksi.
Bukan hanya IHSG yang merosot. Seluruh indeks domestik kompak melemah. IDX30 terpantau turun 0,39 persen ke 414,22, Sri-Kehati melemah 0,43 persen menjadi 366,80, LQ45 merosot lebih dalam hingga 0,85 persen ke 794,99, dan JII mengalami penurunan 1,09 persen ke 497,85. Kondisi ini mencerminkan sentimen negatif yang cukup luas di pasar.

Mayoritas sektor juga ikut tertekan. Sektor siklikal memimpin penurunan dengan koreksi 1,57 persen, disusul sektor bahan baku (-1,37 persen), transportasi (-0,90 persen), dan non-siklikal (-0,88 persen). Sektor keuangan, teknologi, dan industri juga ikut tergerus, masing-masing turun 0,63 persen, 0,57 persen, dan 0,53 persen. Hanya sektor energi (0,73 persen), infrastruktur (0,55 persen), dan kesehatan (0,25 persen) yang mampu bertahan di zona hijau.
Di tengah merahnya bursa, beberapa saham justru mencuri perhatian. Saham-saham seperti Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS), Energi Mega Persada (ENRG), dan Sinar Terang Mandiri (MINE) tercatat sebagai top gainers. Di sisi lain, Sarana Mitra Luas (SMIL), Bumi Resources Minerals (BRMS), dan Dana Brata Luhur (TEBE) menjadi top losers, menunjukkan tekanan yang cukup signifikan pada saham-saham tersebut. Aktivitas perdagangan paling ramai terjadi pada saham Bumi Resources (BUMI), Bumi Resources Minerals (BRMS), dan Energi Mega Persada (ENRG). Pergerakan saham-saham ini patut menjadi perhatian investor dalam mengamati dinamika pasar selanjutnya.
