Faktual News Pasar modal Indonesia kembali mencatat penurunan signifikan. Penutupan perdagangan saham hari ini, 25 Juni 2025, menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 0,54 persen, menutup sesi di level 6.832,14 dari posisi pembukaan 6.869,17. Data dari faktual.news menunjukkan pergerakan yang cukup dramatis, dengan 401 saham mengalami koreksi. Hanya 212 saham yang berhasil bertahan di zona hijau, sementara 186 saham lainnya stagnan.
Volume perdagangan tercatat cukup tinggi, mencapai 22,58 miliar saham dengan 1,19 juta kali transaksi, menghasilkan total nilai transaksi Rp12,98 triliun. Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang masih cukup bergejolak. Bukan hanya IHSG yang tertekan, indeks-indeks lainnya juga ikut merosot. IDX30 misalnya, anjlok 0,83 persen ke level 391,90. Sri-Kehati dan LQ45 juga tak luput dari tekanan, masing-masing melemah 0,96 persen dan 0,54 persen. JII pun ikut tergerus 0,24 persen.

Sektor-sektor unggulan pun ikut terdampak. Sektor bahan baku menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 2,03 persen. Energi dan properti juga mengalami koreksi signifikan, masing-masing turun 1,77 persen dan 1,33 persen. Sektor siklikal dan industri juga ikut tertekan, masing-masing melemah 1,14 persen dan 0,35 persen. Hanya sektor transportasi, teknologi, kesehatan, infrastruktur, dan non-siklikal yang mampu bertahan di zona positif, meskipun kenaikannya relatif terbatas.
Di tengah gejolak ini, beberapa saham mencuri perhatian. PT Bank Permata Tbk (BNLI), PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM), dan PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) tercatat sebagai top gainers. Di sisi lain, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) menjadi top losers. Adapun, saham-saham yang paling aktif diperdagangkan adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS), dan PT Sentul City Tbk (BKSL). Pergerakan pasar ini patut menjadi perhatian bagi para investor.
