Faktual News Pagi ini, IHSG dibuka dengan catatan merah, merosot 0,16 persen ke level 6.889,81. Pergerakan ini cukup mengejutkan, mengingat penutupan kemarin yang menunjukkan penguatan. Data perdagangan menunjukkan transaksi kurang dari Rp200 miliar dengan volume yang relatif rendah. Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see investor di tengah berbagai sentimen negatif yang membayangi.
Analis dari Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, sebelumnya telah memprediksi potensi penurunan IHSG hingga level 6.800 jika gagal bertahan di atas 6.900. Prediksi ini ternyata cukup akurat, setidaknya untuk sementara. Ratna menunjuk pada meningkatnya ketidakpastian, khususnya terkait dengan pemberlakuan tarif baru yang akan dimulai pada 9 Juli dan potensi kenaikan lebih lanjut pada 1 Agustus mendatang. Ketidakpastian ini jelas membuat investor enggan mengambil risiko besar.

Sentimen negatif lainnya datang dari sektor riil. Penjualan sepeda motor yang turun 0,3 persen year on year (yoy) di bulan Juni, menyusul penurunan 0,1 persen yoy di bulan Mei, mengindikasikan melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ini tentu saja berdampak pada prospek pertumbuhan ekonomi dan berimbas pada pasar saham.
Investor juga tengah menantikan rilis indeks Consumer Confidence bulan Juni dan sejumlah penawaran saham perdana (IPO). Namun, bayang-bayang surat dari pihak AS yang mengancam akan mengenakan tarif 32 persen mulai 1 Agustus mendatang, serta potensi kenaikan tarif balasan jika Indonesia melakukan hal serupa, menambah kekhawatiran. Situasi ini menimbulkan dilema bagi pelaku pasar yang berharap penurunan tarif, bukan sebaliknya. Perkembangan ini patut diwaspadai dan akan sangat mempengaruhi pergerakan IHSG ke depannya.

