Faktual News , Jakarta – Meski harga emas global menunjukkan volatilitas yang signifikan di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian kebijakan ekonomi, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menegaskan bahwa daya tarik logam mulia ini tak pernah pudar. Permintaan terhadap emas justru tetap tinggi, didorong oleh berbagai faktor fundamental yang menjadikannya aset primadona di kala ketidakpastian.
Setelah sempat mencetak rekor tertinggi pada akhir Januari, harga emas global terkoreksi tajam lebih dari 10 persen di awal Februari 2026. Fenomena ini dipicu oleh penguatan signifikan dolar AS serta respons pasar terhadap sinyal kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung mengetat. Volatilitas serupa juga melanda pasar domestik, di mana harga emas batangan sempat anjlok hingga Rp183.000 per gram dalam satu hari di awal Februari 2026. Koreksi ini adalah cerminan sensitivitas pasar terhadap gejolak global. Menariknya, dalam perspektif jangka menengah, emas tetap berada dalam tren penguatan yang solid, jauh di atas level harga awal tahun.

Direktur Investor Relations PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), Thendra Crisnanda, menjelaskan bahwa fluktuasi jangka pendek ini justru menyoroti karakter intrinsik emas sebagai aset yang sangat likuid dan responsif terhadap setiap dinamika global. "Koreksi ini justru menciptakan peluang emas bagi investor atau penabung untuk melakukan akumulasi, baik untuk tujuan menabung maupun investasi jangka panjang," ujar Thendra dalam keterangan resmi yang diterima faktual.news, Selasa, 10 Februari 2026.
Thendra menambahkan, faktor-faktor seperti ketidakpastian geopolitik yang persisten, risiko fiskal yang membayangi, serta arah kebijakan moneter global yang belum menentu, secara kolektif terus memicu minat yang kuat terhadap emas. Tingginya ketidakpastian ekonomi global ditambah ketegangan geopolitik membuat masyarakat semakin gencar melirik emas sebagai aset ‘safe haven’ utama.
Di sisi lain, stabilitas makroekonomi Amerika Serikat, dengan inflasi yang terkendali di kisaran 2 persen dan Federal Reserve yang masih menahan suku bunga acuan, turut membentuk ekspektasi pasar mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Kondisi ini berimbas langsung pada tren harga emas global.
Lonjakan Permintaan dari Bank Sentral Dunia
Tak kalah penting, lonjakan permintaan emas dalam volume masif dari berbagai bank sentral di seluruh dunia juga menjadi katalisator signifikan dalam fluktuasi harga. Sebagai indikator kuat, data perdagangan Swiss menunjukkan peningkatan ekspor emas sebesar 27 persen secara bulanan pada Desember 2025, merefleksikan kuatnya daya serap pasar global.
Merespons tren yang ada, sejumlah institusi keuangan global terkemuka secara serempak menaikkan proyeksi harga emas untuk tahun 2026. Deutsche Bank memproyeksikan harga emas akan mencapai USD6.000 per ounce. Morgan Stanley bahkan melihat skenario bullish di level USD5.700 per ounce. Sementara itu, UBS AG menaikkan targetnya dari USD5.900 menjadi USD6.200 per ounce untuk periode kuartal I-III 2026. Goldman Sachs, di sisi lain, mempertahankan estimasi USD5.400 per ounce hingga akhir 2026, angka ini bahkan telah terealisasi pada akhir Januari lalu.
Secara umum, konsensus pasar menempatkan harga emas 2026 di kisaran USD5.000-USD6.000 per ounce. Konsensus ini tidak hanya mencerminkan ekspektasi berlanjutnya permintaan akan aset safe haven, tetapi juga antisipasi terhadap lingkungan suku bunga riil yang cenderung rendah.
Kinerja Gemilang HRTA di Tengah Dinamika Pasar
Sebagai informasi tambahan, HRTA sendiri mencatatkan kinerja yang sangat impresif sepanjang tahun 2025. Saham HRTA mencatat lonjakan fantastis sebesar 580 persen secara tahunan, melesat dari Rp328 per saham menjadi Rp2.150 per saham pada penutupan perdagangan 2025. Kinerja gemilang ini adalah cerminan nyata dari kepercayaan pasar yang mendalam terhadap fundamental perusahaan dan prospek pertumbuhannya yang cerah.
"Dengan fundamental yang terjaga dan ekosistem bisnis emas yang semakin terintegrasi, kami melihat momentum harga emas saat ini sebagai peluang strategis untuk memperkuat posisi HRTA dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik yang beragam, baik untuk tujuan investasi, konsumsi perhiasan, maupun pengembangan ekosistem emas nasional secara keseluruhan," pungkas Thendra.
Penulis: Ari Astriawan
