Faktual News – Jakarta – Senin, 2 Maret 2026 menjadi hari yang kelam bagi pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok dalam, menutup perdagangan di level 8.016,83 poin. Penurunan signifikan sebesar 2,65% dari posisi sebelumnya 8.235,48 ini disinyalir kuat dipicu oleh sentimen negatif dari eskalasi konflik geopolitik global, terutama ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang memicu kekhawatiran capital outflow dari pasar negara berkembang.
Data dari RTI Business menunjukkan betapa masifnya tekanan jual yang melanda bursa. Sebanyak 671 saham harus rela terkoreksi, jauh melampaui 108 saham yang berhasil menguat. Sementara 41 saham lainnya stagnan tanpa perubahan berarti. Total transaksi mencapai Rp29,83 triliun, melibatkan 56,60 miliar saham yang berpindah tangan dalam 3,65 juta kali frekuensi. Angka ini mencerminkan aktivitas pasar yang tinggi namun didominasi oleh aksi jual yang agresif.

Gelombang koreksi tidak hanya menerpa IHSG secara keseluruhan, tetapi juga merembet ke seluruh indeks utama di Bursa Efek Indonesia. Indeks IDX30 anjlok 2,46% menjadi 429,00, diikuti oleh LQ45 yang terperosok 2,62% ke 812,49. Sri-Kehati tak luput dari tekanan, melemah 2,57% menjadi 374,21, dan Indeks Saham Syariah Indonesia (JII) ikut terkoreksi 2,13% ke level 542,98.
Hampir seluruh sektor industri mencatatkan kinerja negatif yang mencolok. Sektor siklikal menjadi yang paling terpukul dengan penurunan fantastis 7,60%, mengindikasikan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi. Disusul sektor industrial (-5,95%), properti (-4,14%), infrastruktur (-4,13%), dan teknologi (-3,77%) yang juga mencatatkan pelemahan signifikan. Sektor-sektor lain seperti non-siklikal (-3,58%), transportasi (-2,74%), keuangan (-2,67%), kesehatan (-2,16%), dan bahan baku (-0,87%) juga tak mampu menahan gempuran sentimen negatif yang melanda.
Namun, di tengah lautan merah, hanya satu sektor yang mampu bersinar terang: sektor energi. Sektor ini berhasil membukukan kenaikan 1,54%, menjadi satu-satunya penopang di tengah badai pelemahan. Saham-saham di sektor ini diuntungkan oleh potensi kenaikan harga komoditas akibat ketidakpastian global dan konflik geopolitik, dengan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) memimpin penguatan sebesar 2,99%, menunjukkan resiliensi di tengah gejolak pasar.
Beberapa saham menjadi sorotan sepanjang hari. Di jajaran top gainers, nama-nama seperti PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI), dan PT Elnusa Tbk (ELSA) berhasil mencuri perhatian dengan kenaikan harga yang signifikan. Sebaliknya, top losers didominasi oleh PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT DMS Propertindo Tbk (KOTA), dan PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk (CARS) yang mengalami koreksi tajam. Sementara itu, saham yang paling aktif diperdagangkan berdasarkan nilai transaksi adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).
Kondisi pasar yang bergejolak ini menuntut kehati-hatian investor dalam mengambil keputusan. Dinamika geopolitik global diprediksi akan terus menjadi faktor penentu pergerakan pasar ke depan, menjadikan sektor-sektor tertentu lebih rentan atau justru lebih prospektif tergantung pada perkembangan situasi.
Editor: Galih Pratama
