Faktual News – Proyeksi mengejutkan datang dari PT BNI Sekuritas terkait arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) di masa mendatang. Lembaga sekuritas ini memperkirakan Bank Indonesia (BI) hanya akan memangkas suku bunga acuan, atau BI Rate, sebesar 25 basis poin (bps) pada paruh kedua tahun 2026. Angka ini terbilang konservatif di tengah ekspektasi pasar.
Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, dalam acara "Ramadhan Market Update BNI Sekuritas" pada Rabu, 11 Maret 2026, menjelaskan bahwa potensi pemangkasan suku bunga tahun ini memang cukup terbatas. "Kami memperkirakan hanya akan ada pemangkasan sebesar 25 basis poin, dengan target dimulainya pemotongan tersebut pada semester kedua 2026," ungkap Fanny.
Namun, asumsi ini tidak terlepas dari kondisi eksternal, yaitu jika Federal Reserve (the Fed) melonggarkan kebijakan moneternya dengan memangkas Fed Funds Rate (FFR) sebesar 50 basis poin. Tanpa langkah the Fed tersebut, ruang gerak BI bisa jadi lebih sempit.
Pemangkasan yang terbatas ini, jelas Fanny, didasari oleh kekhawatiran terhadap stabilitas nilai tukar rupiah yang cenderung melemah akibat dinamika eksternal. Gejolak global seringkali memicu arus modal keluar, yang pada gilirannya menekan rupiah.
Selain itu, potensi kenaikan inflasi juga menjadi pertimbangan utama. Lonjakan harga minyak mentah dunia, ditambah dengan upaya pemerintah yang tengah gencar menggenjot daya beli masyarakat, berpotensi memicu tekanan inflasi di dalam negeri. "Mengapa kami hanya memproyeksikan 25 bps? Karena kami masih mencermati kekhawatiran terhadap rupiah dan juga potensi kenaikan inflasi," tegas Fanny.
Sebagai informasi, Bank Indonesia sendiri telah mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen pada Februari 2026. Angka ini merupakan level terendah sejak tahun 2022, setelah sebelumnya mengalami penurunan signifikan sebesar 150 bps sejak September 2024. Penurunan tersebut terbagi menjadi 25 bps pada September 2024 dan 125 bps sepanjang tahun 2025. Proyeksi BNI Sekuritas ini mengindikasikan bahwa laju penurunan suku bunga mungkin tidak akan secepat yang diharapkan banyak pihak, mengingat tantangan ekonomi global dan domestik yang masih membayangi.
