Faktual News – Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan perdagangan 23-27 Februari 2026 dengan performa yang kurang memuaskan. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini tercatat melemah 0,44 persen, mengakhiri sesi di level 8.235,48. Angka ini terkoreksi dari posisi 8.271,76 pada penutupan pekan sebelumnya. Pelemahan IHSG ini turut menyeret kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) yang juga mengalami penurunan sebesar 1,03 persen, dari Rp14.941 triliun menjadi Rp14.787 triliun.
Koreksi pada IHSG tersebut tak lepas dari kontribusi sejumlah saham berkapitalisasi besar yang berperan sebagai "pemberat" atau top laggards sepanjang pekan. Faktual News mengidentifikasi beberapa emiten yang memberikan tekanan signifikan pada pergerakan indeks, di antaranya adalah PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSSA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Performa saham-saham ini, bersama beberapa lainnya, menjadi sorotan utama di balik lesunya pasar.
Meskipun indeks dan kapitalisasi pasar menunjukkan tren negatif, dinamika aktivitas perdagangan justru menampilkan gambaran yang bervariasi. Rata-rata frekuensi transaksi harian tercatat mengalami sedikit penurunan sebesar 3,72 persen, dari 3,06 juta kali transaksi menjadi 2,95 juta kali. Namun, di sisi lain, rata-rata volume transaksi harian justru menunjukkan peningkatan 8,55 persen, mencapai 51,02 miliar lembar saham dari 47 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya.
Yang paling menonjol adalah lonjakan rata-rata nilai transaksi harian yang mencatatkan peningkatan signifikan sebesar 25,35 persen. Angka ini melonjak menjadi Rp29,52 triliun, jauh di atas Rp23,89 triliun pada pekan sebelumnya. Peningkatan nilai transaksi yang substansial ini mengindikasikan adanya pergerakan dana yang besar di pasar, meskipun sentimen investor asing masih cenderung negatif. Pada penutupan Jumat (27/2), investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp694,22 miliar. Secara kumulatif sepanjang tahun 2026 berjalan, aliran dana asing masih mencatatkan net sell yang cukup besar, mencapai Rp9,51 triliun. (*)
