Faktual News – Periode Ramadan dan Lebaran seringkali identik dengan kehangatan keluarga, tradisi, namun juga lonjakan pengeluaran yang signifikan. Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) atau Amar Bank mengungkap fakta menarik: mayoritas, atau sekitar 87 persen, dari lebih dari 1.600 responden di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Makassar, mengakui adanya peningkatan pengeluaran drastis selama bulan suci tersebut. Meski demikian, menariknya, sekitar 16,9 persen dari total responden tetap merasa kondisi keuangannya nyaman sepanjang periode tersebut.
Abraham Lumban Batu, Direktur Retail Banking Amar Bank, menyoroti bahwa Ramadan adalah momen di mana kebutuhan rumah tangga melonjak dalam waktu singkat, seringkali tidak sejalan dengan ritme arus kas. "Masyarakat tidak hanya membutuhkan akses dana, tetapi juga pendampingan agar mereka dapat memprioritaskan kebutuhan utama, memahami kapasitas keuangan, dan mengambil keputusan pembiayaan yang bertanggung jawab. Bagi kami, peran bank adalah membantu menjaga kelancaran, bukan menambah beban," jelas Abraham, seperti dikutip Faktual News pada Selasa, 17 Maret 2026.

Kebutuhan Rumah Tangga Jadi Pos Pengeluaran Terbesar
Lantas, ke mana saja dana masyarakat mengalir? Survei ini menunjukkan bahwa pos pengeluaran terbesar didominasi oleh kebutuhan rumah tangga, mencapai 86,0 persen. Disusul kemudian oleh kebutuhan sandang Lebaran, acara buka bersama, dan pemberian hampers yang menyerap 67,6 persen dari total pengeluaran. Sementara itu, tiket mudik juga menjadi pos penting dengan kontribusi 26,4 persen. Data ini mempertegas bahwa tantangan finansial selama Ramadan lebih banyak berkaitan dengan kebutuhan rutin dan semi-rutin yang menumpuk dalam periode yang relatif singkat.
Perbedaan Pola Keuangan Gen Z dan Milenial
Menariknya, survei Amar Bank juga menguak perbedaan pola pengelolaan keuangan antara Generasi Z dan Milenial. Gen Z, yang diwakili oleh 765 responden, cenderung menunjukkan sikap yang lebih defensif. Ketika dihadapkan pada pengeluaran tak terduga, 46 persen dari mereka memilih untuk mengandalkan dana darurat, sementara 38,3 persen lainnya menggabungkannya dengan pinjaman. Sekitar 42,0 persen Gen Z merasa kondisi keuangannya makin ketat menjelang akhir bulan, menunjukkan prioritas mereka untuk menjaga stabilitas dan bertahan hingga masa sulit terlewati.
Sebaliknya, Milenial, dengan 461 responden, tampak lebih taktis dalam menyusun strategi keuangan. Sebanyak 42,0 persen dari Milenial memilih untuk mengombinasikan dana darurat dengan pinjaman, angka ini lebih tinggi dibandingkan 38,8 persen yang hanya menggunakan dana darurat. Sekitar 36,0 persen Milenial juga mengakui mengalami arus kas yang tidak menentu. Pola ini mengindikasikan bahwa Milenial lebih siap menggunakan kombinasi strategi untuk memastikan kebutuhan tetap terpenuhi, tanpa harus menunggu situasi finansial sepenuhnya aman.
Temuan survei Amar Bank ini memberikan gambaran komprehensif tentang dinamika pengeluaran masyarakat Indonesia selama Ramadan dan Lebaran, serta bagaimana generasi yang berbeda menyikapi tantangan finansial yang muncul. Ini menjadi pengingat penting akan perlunya perencanaan keuangan yang matang, terutama di periode-periode dengan lonjakan kebutuhan.
Editor: Yulian Saputra

