Faktual.news – Fenomena menjamurnya layanan taksi online dan semakin terintegrasinya moda transportasi umum di kota-kota besar kini memicu perdebatan menarik di tengah masyarakat. Di satu sisi, memiliki kendaraan pribadi seperti mobil menawarkan fleksibilitas waktu dan privasi yang tidak bisa didapatkan dari transportasi publik. Namun di sisi lain, muncul sebuah pertanyaan besar: apakah memiliki mobil pribadi masih relevan dan menguntungkan di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan?
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang fluktuatif serta biaya perawatan yang kian mahal seringkali membuat kepemilikan mobil menjadi beban finansial yang berat. Bagi sebagian orang, mobil bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan penguras kantong yang bisa mengganggu stabilitas ekonomi keluarga. Lantas, bagaimana cara menentukan keputusan yang paling bijak agar tidak terjebak dalam penyesalan finansial?

Menanggapi dilema ini, para ahli perencana keuangan memberikan pandangan mendalam. Budi Rahardjo, perencana keuangan dari Shildt Financial Planning, menekankan pentingnya membedakan antara kebutuhan mendesak dan sekadar keinginan emosional. Menurutnya, sebelum memutuskan untuk membeli aset bernilai besar seperti mobil, seseorang harus melakukan evaluasi ketat terhadap tiga aspek utama: tujuan penggunaan, kapasitas finansial, dan dampak jangka panjang terhadap keuangan.
"Pastikan proses pertimbangannya benar. Apakah mobil ini akan digunakan secara rutin untuk mendukung produktivitas, atau hanya untuk memenuhi keinginan sesaat karena tergiur promosi?" ujar Budi. Ia memperingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam pembelian impulsif yang hanya didasari oleh gengsi atau emosi semata.
Selain itu, Budi mengingatkan bahwa skema pembelian, baik tunai maupun kredit, memiliki konsekuensi yang berbeda. Pembelian secara kredit, misalnya, akan membengkak karena adanya bunga, biaya administrasi, hingga premi asuransi. Ia menyarankan agar jangan sampai dana yang digunakan untuk membeli mobil justru mengorbankan pos vital lainnya, seperti dana darurat, biaya pendidikan anak, atau dana pensiun. Jika kondisi ekonomi memburuk, pemilik kendaraan disarankan untuk mengevaluasi ulang kepemilikan mereka atau mempertimbangkan untuk beralih ke kendaraan dengan biaya operasional yang lebih rendah.
Senada dengan hal tersebut, Ahmad Gozali dari Zelts Consulting menyarankan strategi kombinasi dalam bertransportasi. Bagi mereka yang sudah terlanjur memiliki mobil namun merasa terbebani dengan biaya operasional yang tinggi, ia menyarankan untuk mulai menggunakan transportasi umum secara bijak.
"Jika cuaca mendukung dan tujuan perjalanan sudah terencana, tidak ada salahnya menggunakan transportasi umum. Anda bisa memanfaatkan fasilitas park and ride di stasiun KRL atau MRT untuk menghemat biaya perjalanan," jelas Ahmad.
Lebih lanjut, Ahmad mengingatkan bahwa dalam membeli mobil, masyarakat tidak boleh hanya terpaku pada kemampuan membayar harga beli di awal. Sangat penting untuk menghitung total cost of ownership atau total biaya kepemilikan. Hal ini mencakup biaya bahan bakar, biaya perawatan rutin, pajak tahunan, hingga biaya parkir. Dengan perhitungan yang matang, seseorang dapat menentukan apakah memiliki mobil pribadi benar-benar sebuah investasi kenyamanan atau justru menjadi beban ekonomi yang tidak perlu.


