Faktual.news – Indonesia kembali menunjukkan taringnya di kancah internasional melalui penguatan sektor ekonomi syariah. Dalam sebuah forum prestisius di Harvard University, Amerika Serikat, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) secara resmi memaparkan potensi besar serta ekosistem ekonomi syariah yang sedang berkembang pesat di tanah air.
Pemaparan yang mengusung tajuk "Introduction to Islamic Economy and Finance: Concepts, Ecosystem, and Indonesia’s Experience" ini menjadi panggung bagi Indonesia untuk memperkenalkan model ekonomi berbasis prinsip syariah kepada dunia akademisi dan praktisi global. Dalam sesi tersebut, Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS, Sutan Emir Hidayat, menjadi pembicara utama yang menguraikan bagaimana Indonesia mengelola sistem ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata.

Emir menekankan bahwa esensi dari ekonomi dan keuangan syariah jauh lebih luas daripada sekadar instrumen perbankan atau produk keuangan konvensional lainnya. Menurutnya, ekonomi syariah mencakup integrasi antara sektor keuangan dan sektor riil. Inti dari seluruh aktivitas ekonomi ini terletak pada penerapan prinsip-prinsip fundamental, yakni keadilan, keseimbangan, kemaslahatan umat, serta keberlanjutan (sustainability).
"Ekonomi syariah bukan hanya soal angka di atas kertas, melainkan tentang bagaimana menciptakan ekosistem yang adil dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas," ujar Emir dalam paparannya.
Dalam kesempatan tersebut, KNEKS juga menjelaskan peran strategisnya sebagai orkestrator utama dalam pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di tingkat nasional. Indonesia tidak hanya ingin menjadi konsumen produk halal, tetapi juga ingin menjadi pusat produksi global melalui penguatan Halal Value Chain (HVC) atau rantai nilai halal.
Data yang dipaparkan menunjukkan tren yang sangat positif bagi ekonomi nasional. Berdasarkan catatan terbaru, sektor Halal Value Chain telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Pada kuartal pertama tahun 2026, sektor ini menyumbang sebesar 26,07 persen terhadap PDB, atau jika dikonversi ke nilai mata uang mencapai angka fantastis yakni Rp1.613 triliun.
Pertumbuhan sektor ini tercatat mencapai 6,8 persen secara tahunan (year-on-year). Lonjakan ini didorong oleh beberapa sektor kunci yang menjadi tulang punggung ekonomi syariah di Indonesia, di antaranya adalah sektor pertanian, industri makanan dan minuman halal, industri fesyen muslim, serta sektor pariwisata ramah muslim.
Melalui pemaparan di Harvard University ini, Indonesia berharap dapat menarik lebih banyak investasi global ke dalam ekosistem ekonomi syariah nasional. Dengan fondasi yang kuat pada sektor riil dan dukungan regulasi yang mumpuni, Indonesia optimis dapat menjadi pemimpin pasar dalam ekonomi syariah dunia di masa depan.


