Faktual News IHSG menutup sesi pertama perdagangan hari Rabu, 30 Juli 2025, dengan penurunan cukup signifikan. Indeks ambles 0,72 persen ke level 7.562,80, menurun dari penutupan sebelumnya di angka 7.617,90. Pergerakan ini cukup mengejutkan, mengingat ekspektasi pasar yang sebelumnya cenderung optimis.
Data perdagangan dari RTI Business menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi. Sebanyak 14,44 miliar saham diperdagangkan, dengan frekuensi transaksi mencapai 1,05 juta kali dan nilai transaksi total mencapai Rp7,48 triliun. Meskipun demikian, jumlah saham yang terkoreksi (325 saham) melebihi saham yang menguat (276 saham), menunjukkan sentimen negatif yang mendominasi pasar. Sebanyak 199 saham lainnya stagnan.

Sektor keuangan menjadi biang keladi penurunan IHSG, mengalami koreksi cukup dalam sebesar 1,93 persen. Pelemahan ini cukup signifikan dan berdampak besar pada keseluruhan indeks. Sektor infrastruktur juga ikut tertekan, mengalami penurunan 1,73 persen. Sementara itu, sektor energi dan bahan baku juga melemah, masing-masing sebesar 0,39 persen dan 0,26 persen.
Menariknya, di tengah pelemahan IHSG, beberapa sektor justru menunjukkan kinerja positif. Sektor non-siklikal memimpin penguatan dengan kenaikan 0,92 persen, diikuti sektor industri (0,76 persen), kesehatan (0,61 persen), teknologi (0,37 persen), transportasi (0,28 persen), siklikal (0,09 persen), dan properti (0,04 persen). Performa sektoral yang beragam ini menunjukkan adanya dinamika yang kompleks di pasar saham domestik.
Pergerakan IHSG hari ini juga selaras dengan tren sebagian bursa Asia. Hang Seng Index Hong Kong dan Nikkei 225 Jepang mengalami penurunan, masing-masing sebesar 0,34 persen dan 0,06 persen. Namun, Shanghai Composite Index China justru mencatatkan kenaikan 0,52 persen. Hal ini menunjukkan bahwa faktor global juga turut mempengaruhi pergerakan IHSG. Analisis lebih lanjut diperlukan untuk memahami dampak sentimen global terhadap pasar saham Indonesia.
