Jakarta – Faktual News melaporkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami hari yang kelam pada perdagangan sesi I Kamis, 6 Februari 2026. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini ditutup anjlok tajam sebesar 2,83 persen, memangkas posisinya dari 8.103,87 saat dibuka menjadi 7.874,41. Penurunan drastis ini sontak memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Data dari RTI Business menunjukkan betapa aktifnya pasar di tengah tekanan jual yang masif. Sebanyak 22,23 miliar lembar saham berpindah tangan melalui 1,46 juta kali transaksi, menghasilkan total nilai transaksi yang fantastis mencapai Rp10,46 triliun. Angka ini mencerminkan volume penjualan yang signifikan dan kepanikan yang melanda pasar.
Dominasi tekanan jual terlihat jelas dari pergerakan saham individu. Mayoritas, yakni 671 saham, harus rela terkoreksi, sementara hanya 89 saham yang berhasil menguat. Sebanyak 57 saham lainnya terpantau stagnan tanpa perubahan berarti, menunjukkan sentimen negatif yang merata.
Tak ada satu pun sektor yang mampu bertahan dari hantaman sentimen negatif. Seluruh sektor terpantau melemah, dengan sektor siklikal menjadi yang paling terpuruk, anjlok hingga 5,43 persen. Disusul ketat oleh sektor industrial yang kehilangan 4,70 persen nilainya, sektor bahan baku -4,17 persen, sektor energi -3,88 persen, sektor infrastruktur -3,63 persen, dan sektor properti -3,21 persen.
Gelombang pelemahan juga menyeret sektor transportasi yang turun 2,25 persen, sektor keuangan -1,97 persen, sektor non-siklikal -1,78 persen, sektor teknologi -1,64 persen, dan sektor kesehatan yang menjadi satu-satunya sektor dengan penurunan di bawah 2 persen, yakni -1,09 persen.
Kontras dengan kondisi domestik, pergerakan bursa saham di Asia menunjukkan gambaran yang bervariasi. Indeks Shanghai Composite di Tiongkok berhasil menguat tipis 0,11 persen, sementara Nikkei 225 di Tokyo juga naik 0,31 persen. Namun, Hang Seng Index di Hong Kong justru mengikuti tren pelemahan dengan koreksi 1,24 persen. Penurunan drastis IHSG ini tentu menjadi perhatian serius bagi para investor dan pelaku pasar, memicu pertanyaan tentang faktor pemicu utama di balik tekanan jual masif yang melanda seluruh sektor pada sesi perdagangan kali ini.

