Faktual News melaporkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi I Kamis (26/3) berbalik arah dari pembukaan, ditutup anjlok 1,21 persen ke level 7.214,08. Pelemahan ini terjadi setelah indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut sempat dibuka di posisi 7.302,12.
Berdasarkan statistik dari RTI Business, aktivitas perdagangan sepanjang sesi pertama menunjukkan volume yang cukup besar namun didominasi aksi jual. Sebanyak 19,58 miliar saham berpindah tangan dengan frekuensi 1,04 juta kali transaksi. Total nilai transaksi tercatat mencapai angka fantastis Rp25,95 triliun.
Dominasi sentimen negatif terlihat jelas dari pergerakan saham individu. Sebanyak 349 saham tercatat mengalami koreksi harga, sementara 296 saham berhasil menguat, dan 173 saham lainnya stagnan tanpa perubahan.
Hampir seluruh sektor industri di Bursa Efek Indonesia terperosok ke zona merah, mengindikasikan tekanan jual yang merata. Sektor energi menjadi pemimpin pelemahan dengan penurunan tajam 2,05 persen, disusul oleh sektor industrial yang tak kalah merosot 2,04 persen. Sektor teknologi juga tak luput dari koreksi, anjlok 1,26 persen, diikuti oleh bahan baku yang melemah 0,95 persen, dan konsumer siklikal terkoreksi 0,85 persen.
Lebih lanjut, sektor infrastruktur juga ikut tertekan 0,72 persen, keuangan melemah 0,64 persen, properti terkoreksi tipis 0,08 persen, dan konsumer non-siklikal hanya turun 0,01 persen.
Di tengah badai pelemahan yang melanda mayoritas sektor, ada dua sektor yang berhasil menunjukkan ketahanan dan bahkan mencatat penguatan. Sektor transportasi tampil sebagai bintang dengan lonjakan impresif 2,64 persen, sementara sektor kesehatan juga berhasil mengakhiri sesi dengan kenaikan tipis 0,01 persen.
Sentimen negatif dari pasar domestik juga sejalan dengan kondisi bursa regional Asia. Indeks-indeks utama di kawasan tersebut kompak melemah. Nikkei 225 Tokyo terkoreksi 0,67 persen, Shanghai Composite Index anjlok 0,92 persen, dan Hang Seng Index Hong Kong menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 1,93 persen.
