Faktual News – Pasar modal Indonesia kembali diuji oleh gejolak global. Meningkatnya tensi geopolitik di berbagai belahan dunia memicu respons cepat dari pasar keuangan, salah satunya terlihat dari lonjakan harga minyak mentah yang sempat menyentuh level USD115 per barel. Fenomena ini, seperti diungkapkan oleh Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama, turut memperkuat posisi dolar Amerika Serikat (AS) dan menggeser preferensi investor global.
Menurut Elandry, kondisi tersebut memicu pergeseran arus dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju aset yang dinilai lebih aman. Akibatnya, tekanan jual yang signifikan pun tak terhindarkan di pasar saham domestik. Sentimen negatif ini tercermin jelas pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat terperosok hingga 5,60 persen, mendarat di level 7.160,59.
Namun, di tengah badai ini, Elandry Pratama melihat secercah harapan di sektor energi, setidaknya untuk jangka pendek. Khususnya, emiten-emiten yang kinerjanya sensitif terhadap fluktuasi harga minyak, seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Elnusa Tbk (ELSA), dinilai masih menyimpan potensi menarik untuk dicermati.
"Meskipun demikian, penguatan yang terjadi berpotensi bersifat sementara," kata Elandry. Ia mengingatkan bahwa investor tetap wajib mewaspadai tingginya volatilitas pasar dalam kondisi saat ini.
Korelasinya dengan kenaikan harga minyak memang terlihat nyata. Pada penutupan perdagangan sesi I, Senin (9/3) lalu, saham MEDC dan ELSA terpantau berhasil mencatatkan penguatan. MEDC melonjak sekitar 2,55 persen ke level Rp1.810 per saham, bahkan sempat menyentuh puncak Rp1.885. Sementara itu, ELSA tidak kalah gesit, menguat 1,76 persen ke Rp860 per saham, dengan rentang pergerakan antara Rp835 hingga Rp925 sepanjang sesi perdagangan tersebut.
Situasi ini menggarisbawahi pentingnya kejelian investor dalam membaca arah pasar di tengah ketidakpastian global, sekaligus menyoroti peluang yang masih bisa ditemukan di tengah tekanan.
