Dolar AS Tumbang! Rupiah Perkasa Berkat Hormuz?
Pagi ini, sentimen positif menyelimuti pasar keuangan Indonesia. Faktual News mencatat, nilai tukar rupiah berhasil menunjukkan performa impresif pada pembukaan perdagangan hari Selasa, 17 Maret 2026. Mata uang Garuda ini dibuka menguat di level Rp16.971 per dolar Amerika Serikat (AS), melesat 0,15 persen dari posisi penutupan kemarin yang berada di Rp16.997 per dolar AS.
Penguatan rupiah ini, menurut analisis pasar, tidak lepas dari dinamika global yang tengah berlangsung. Salah satu pemicu utamanya adalah penurunan harga minyak mentah dunia. Optimisme pasar terkait jalur distribusi energi global melalui Selat Hormuz kembali menguat, menyusul pernyataan penting dari Donald Trump. Mantan Presiden AS itu dikabarkan akan segera mengumumkan daftar negara yang akan berpartisipasi dalam upaya pengamanan jalur pelayaran vital di kawasan tersebut, meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan.
Lukman Leong, Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, menyoroti korelasi antara pergerakan harga komoditas dan nilai tukar. Ia menjelaskan, "Rupiah memang berpotensi menguat signifikan terhadap dolar AS. Penurunan harga minyak mentah global menjadi faktor krusial, didorong oleh ekspektasi pasar bahwa jalur Selat Hormuz akan segera pulih sepenuhnya. Pernyataan Trump mengenai pengumuman negara-negara pengaman jalur tersebut dalam waktu dekat, telah memicu harapan positif ini," ungkap Lukman pada Selasa (17/3/2026).
Untuk proyeksi pergerakan harian, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang yang cukup ketat. "Hari ini, rupiah diperkirakan akan berada di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.050 per dolar AS," pungkasnya, memberikan gambaran akan potensi fluktuasi yang masih mungkin terjadi di tengah sentimen positif ini.
