Gawat! Konflik Iran-AS Ancam Rupiah & IHSG, Investor Wajib Tahu Ini!
Faktual News – Ketegangan geopolitik yang memanas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini bukan lagi sekadar isu politik, melainkan telah menjelma menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global, termasuk pasar domestik Indonesia. Pengamat Pasar Modal, Elandry Pratama, menyoroti bagaimana eskalasi di kawasan yang merupakan urat nadi perdagangan energi dunia ini memicu kekhawatiran akan terjadinya arus modal keluar (capital outflow) yang dapat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah.
Menurut Elandry, pasar global merespons situasi ini dengan pola "risk-off". "Investor global cenderung mengalihkan dananya dari aset-aset berisiko tinggi menuju instrumen yang dianggap lebih aman atau ‘safe haven’," ujarnya kepada faktual.news di Jakarta pada 2 Maret 2026. Fenomena ini, menurut Elandry, merupakan sinyal peringatan keras bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang seringkali menjadi target utama penarikan modal saat sentimen global memburuk.
Bagi pasar domestik, risiko utama adalah potensi capital outflow yang signifikan. Investor asing, di tengah ketidakpastian yang meningkat, cenderung mengurangi porsi investasi mereka di pasar negara berkembang. "Arus dana keluar ini berpotensi besar menekan Rupiah dan IHSG. Selain itu, ada risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi global yang bisa menggerus margin keuntungan emiten," tambah Elandry, menjelaskan dampak berantai dari gejolak geopolitik terhadap fundamental ekonomi.
Data terkini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia telah mencatat outflow investor asing sebesar Rp18,67 triliun sejak awal tahun hingga perdagangan Jumat, 27 Februari 2026. Angka ini mengindikasikan bahwa tekanan jual dari investor asing sudah berlangsung dan berpotensi berlanjut. Dalam skenario terburuk, IHSG berpeluang menguji level support 8.133. Apabila level krusial ini tembus, maka area psikologis 8.000 menjadi target berikutnya, sementara level resistance berada di kisaran 8.300.
Namun, di tengah bayang-bayang ketidakpastian, beberapa sektor justru berpotensi diuntungkan. Sektor komoditas seperti emas dan minyak, secara historis, acap kali menjadi "pelabuhan aman" bagi investor saat terjadi gejolak global. Selain itu, sektor pelayaran juga berpeluang meraup keuntungan. Gangguan pada jalur distribusi global memaksa kapal-kapal untuk menempuh rute yang lebih panjang dan menghadapi risiko yang lebih tinggi. Kondisi ini pada akhirnya meningkatkan biaya operasional dan tarif angkut, yang bebannya akan diteruskan kepada pelanggan. Meski demikian, Elandry mengingatkan investor untuk tetap disiplin dan selektif dalam menyusun strategi investasi mereka, mengingat volatilitas pasar yang tinggi.
