Investor Panik? IHSG Sesi I Melemah Tipis, Cek Sektor Unggulan!
Faktual News – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi I, Selasa (24/2), menunjukkan pergerakan yang berbalik arah. Setelah sempat dibuka di posisi 8.396,08, indeks acuan bursa saham Indonesia ini akhirnya ditutup melemah 0,26 persen, berada di level 8.374,66. Pelemahan tipis ini mengindikasikan adanya tekanan jual meskipun tidak terlalu signifikan.
Berdasarkan statistik dari RTI Business, aktivitas perdagangan sepanjang sesi pertama hari ini cukup ramai. Sebanyak 28,83 miliar saham berpindah tangan dalam 1,86 juta kali transaksi, menghasilkan total nilai transaksi mencapai Rp12,70 triliun. Angka ini mencerminkan minat investor yang tetap tinggi di pasar, meskipun sentimen cenderung negatif.
Dominasi sentimen negatif terlihat dari banyaknya saham yang mengalami koreksi. Tercatat 417 saham melemah, sementara hanya 237 saham yang berhasil menguat, dan 162 saham lainnya stagnan tanpa perubahan harga.
Pelemahan IHSG ini juga tercermin dari kinerja mayoritas sektor. Sektor siklikal memimpin penurunan dengan anjlok 1,51 persen, diikuti sektor energi yang merosot 1,23 persen, dan sektor teknologi yang terkoreksi 1,01 persen. Sektor kesehatan juga tak luput dari tekanan, turun 0,74 persen. Sementara itu, sektor non-siklikal melemah 0,50 persen, properti 0,45 persen, dan infrastruktur 0,43 persen.
Di tengah tekanan tersebut, beberapa sektor berhasil menjadi penyeimbang dan menunjukkan kekuatan. Sektor keuangan tampil paling perkasa dengan kenaikan 1,07 persen, disusul sektor transportasi yang meningkat 0,56 persen. Sektor bahan baku juga menunjukkan kekuatan dengan menguat 0,29 persen, dan sektor industrial naik tipis 0,22 persen. Sektor-sektor ini menjadi penopang agar pelemahan IHSG tidak semakin dalam.
Secara regional, pergerakan bursa saham Asia menunjukkan gambaran yang beragam. Indeks Nikkei 225 Tokyo berhasil menguat signifikan 0,96 persen, dan Shanghai Composite Index juga melonjak 1,08 persen. Namun, Hang Seng Index di Hong Kong justru mencatat pelemahan paling dalam, merosot 2,03 persen, memberikan kontras pada tren pasar regional.
