Terjun Bebas 7,35%! IHSG Hancur Lebur, Triliunan Rupiah Menguap!
Faktual News – Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) dilanda gelombang tekanan jual masif pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk 7,35 persen, terperosok ke level 8.320,55 dari posisi penutupan sebelumnya di 8.980,23. Penurunan drastis ini sontak memicu kekhawatiran di kalangan investor, menandai salah satu hari terburuk bagi pasar modal domestik dalam beberapa waktu terakhir.
Data dari RTI Business menunjukkan gambaran pasar yang sangat bearish. Mayoritas saham tertekan, dengan 753 emiten mengalami koreksi, berbanding sangat jauh dengan hanya 37 saham yang mampu menguat, dan 16 saham lainnya stagnan. Meskipun pasar berdarah, aktivitas transaksi justru melonjak signifikan. Sebanyak 60,85 miliar lembar saham berpindah tangan dalam 3,99 juta kali transaksi, mencatatkan total nilai fantastis mencapai Rp45,50 triliun. Angka ini mengindikasikan aksi jual besar-besaran yang terjadi sepanjang hari, di mana investor berbondong-bondong melepas kepemilikan saham mereka.
Keterpurukan IHSG turut menyeret seluruh indeks utama domestik ke zona merah pekat. Indeks saham unggulan LQ45 terkoreksi 7,26 persen ke level 812,54, sementara IDX30 anjlok 5,93 persen menjadi 417,82. Tak ketinggalan, Jakarta Islamic Index (JII) mencatat pelemahan terdalam di antara indeks lainnya, merosot tajam 8,78 persen ke 561,22, dan Sri-Kehati melemah 4,15 persen ke 362,07. Ini menegaskan bahwa tekanan jual melanda secara merata di berbagai segmen pasar, tanpa pandang bulu.
Tak ada sektor yang mampu bertahan dari hantaman badai jual. Seluruh 11 sektor saham kompak mencatatkan kinerja negatif. Sektor infrastruktur menjadi yang paling terpukul dengan pelemahan mencapai 10,15 persen. Disusul oleh sektor energi yang ambruk 8,99 persen, dan sektor teknologi yang terkoreksi 7,55 persen. Sektor transportasi juga tak luput dari tekanan, turun 7,36 persen, diikuti industri 6,60 persen, siklikal 6,43 persen, properti 6,35 persen, dan bahan baku 6,30 persen.
Bahkan sektor yang relatif defensif seperti kesehatan dan keuangan juga tak mampu menahan gempuran. Sektor kesehatan melemah 4,84 persen, sektor keuangan turun 4,30 persen, dan sektor non-siklikal terkoreksi 3,96 persen. Kondisi ini mengingatkan kembali pada kejadian sebelumnya, di mana Bursa Efek Indonesia sempat melakukan trading halt setelah IHSG ambles lebih dari 8 persen, menunjukkan volatilitas pasar yang ekstrem dan sentimen negatif yang kuat masih membayangi.
Di tengah riuhnya pasar yang bergejolak, beberapa saham berhasil mencuri perhatian. Saham-saham yang masuk jajaran top gainers antara lain PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI), PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI), dan PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS). Sebaliknya, daftar top losers didominasi oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Greenwood Sejahtera Tbk (GWSA), dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC). Sementara itu, saham paling aktif diperdagangkan adalah PT Sentul City Tbk (BKSL), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA), yang menjadi saksi bisu tingginya volume transaksi di tengah kepanikan pasar.
