Terungkap! Saham Bank Big Caps Goyah di Tengah Badai IHSG
Faktual News – Pasar modal Indonesia kembali diwarnai sentimen bearish pada penutupan pekan ini, Jumat, 19 Desember 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu keluar dari zona merah, menciptakan bayangan ketidakpastian yang turut menyeret kinerja sejumlah indeks sektoral, termasuk barometer saham perbankan unggulan, FAKTUALNEWS15.
Data menunjukkan, IHSG menutup perdagangan di level 8.609,55, terkoreksi tipis 0,10 persen dari posisi sebelumnya 8.618,19. Kendati demikian, pergerakan indeks domestik lainnya cukup bervariasi. Indeks LQ45 berhasil menguat 0,21 persen ke 853,54, sementara Jakarta Islamic Index (JII) bahkan melonjak 0,80 persen menjadi 585,26. Namun, tidak semua bernasib sama; indeks Sri-Kehati melemah 0,01 persen ke 383,73 dan IDX30 turut tergerus 0,20 persen menjadi 438,56.
Di tengah dinamika pasar yang campur aduk ini, perhatian khusus tertuju pada FAKTUALNEWS15. Indeks yang menjadi tolok ukur kinerja 15 saham perbankan dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi ini, justru mencatatkan pelemahan signifikan. Tercatat, FAKTUALNEWS15 merosot 0,56 persen, mengakhiri pekan di posisi 1.039,63. Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan jual yang cukup dominan pada saham-saham bank papan atas, yang seringkali menjadi penopang utama pergerakan IHSG.
Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa mayoritas saham perbankan yang tergabung dalam FAKTUALNEWS15 memang mengalami tekanan sepanjang sesi perdagangan. Sentimen negatif pasar, ditambah dengan aksi profit taking menjelang akhir tahun, agaknya menjadi pemicu utama. Meskipun demikian, di tengah tekanan yang melanda mayoritas saham bank dalam indeks FAKTUALNEWS15, beberapa saham perbankan lainnya, baik di dalam maupun di luar indeks, justru mampu mencatatkan kinerja positif. Hal ini menunjukkan adanya selektivitas investor dan potensi divergensi kinerja di sektor perbankan, di mana bank dengan fundamental paling kokoh atau prospek pertumbuhan spesifik mungkin masih diminati.
Pergerakan variatif ini menggarisbawahi kompleksitas pasar saham saat ini, di mana investor perlu lebih cermat dalam memilih instrumen investasi. Meskipun IHSG dan indeks perbankan utama menunjukkan koreksi, peluang masih terbuka bagi saham-saham dengan fundamental kokoh dan prospek cerah yang mampu menahan gejolak pasar.
