faktual.news – Bank Sentral Jepang BoJ membuat keputusan mengejutkan dengan mengerek suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 10 persen pada Selasa kemarin Langkah ini menandai kenaikan pertama sejak Desember 2025 dan menempatkan suku bunga Jepang pada level tertinggi dalam 31 tahun terakhir atau sejak 1995
Keputusan berani BoJ ini diambil sebagai respons terhadap tekanan inflasi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah Meskipun Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai BoJ tetap teguh pada langkah pengetatan moneternya

Langkah BoJ ini sebenarnya sudah banyak diprediksi pasar menyusul jejak Bank Sentral Eropa dan Bank Indonesia yang juga telah menaikkan suku bunga pekan lalu Gejolak di Timur Tengah memang telah memicu turbulensi ekonomi dan lonjakan harga di seluruh dunia Bahkan inflasi di AS kini mencapai puncaknya dalam tiga tahun terakhir dan The Fed diperkirakan akan segera mengikuti namun tidak dalam pertemuan pertama di bawah pimpinan baru Kevin Warsh pekan ini
Dalam pernyataannya BoJ menjelaskan bahwa meskipun harga minyak mentah yang lebih tinggi telah memberikan tekanan pada aktivitas ekonomi perekonomian secara umum tetap didukung oleh profitabilitas korporasi yang solid serta perbaikan signifikan dalam situasi ketenagakerjaan dan pendapatan Konsumen Indeks Harga Konsumen IHK memang masih di bawah dua persen sebagian berkat subsidi energi pemerintah
Namun BoJ memperingatkan bahwa dampak lonjakan harga minyak mentah terhadap transaksi bisnis antarperusahaan berlangsung relatif cepat dan berpotensi menyebar menjadi kenaikan harga konsumen di berbagai sektor Dengan latar belakang ini dan mengingat ekspektasi inflasi jangka menengah hingga panjang yang terus meningkat BoJ melihat risiko inflasi IHK inti menyimpang ke atas hingga melampaui target stabilitas harga dua persen
Ke depan BoJ menegaskan akan terus menaikkan suku bunga kebijakan dan menyesuaikan tingkat akomodasi moneter Mereka akan mempertimbangkan waktu dan kecepatan penyesuaian sambil terus mencermati dampak perkembangan situasi di Timur Tengah terhadap aktivitas ekonomi dan harga di Jepang BoJ juga mengisyaratkan akan menghentikan program pembelian obligasi besar-besaran setelah April mendatang
Di sisi lain kesepakatan damai antara AS dan Iran yang mengakhiri perang tiga bulan dan membuka kembali Selat Hormuz diperkirakan akan ditandatangani secara fisik di Swiss pada Jumat ini Jepang yang sangat bergantung pada Timur Tengah untuk sekitar 90 persen pasokan minyaknya sebelum perang dimulai pada 28 Februari sangat merasakan dampaknya
Masalah Jepang semakin diperparah oleh terpuruknya nilai yen yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak dan kesenjangan antara suku bunga AS dan Jepang yang termasuk terendah di negara maju Pemerintah Jepang bahkan menghabiskan sekitar 117 triliun yen setara 72 miliar dolar AS bulan lalu untuk menopang mata uangnya yang sempat terperosok di sekitar 160 yen per dolar AS
Setelah pengumuman BoJ pada Selasa kemarin yen sempat melonjak terhadap dolar AS sementara indeks saham Nikkei 225 melesat di atas 70000 poin untuk pertama kalinya Wakil Gubernur BoJ Shinichi Uchida dijadwalkan berbicara kepada media pada Selasa sore menggantikan Gubernur BoJ Kazuo Ueda yang sedang dirawat di rumah sakit
BoJ berada di bawah tekanan pasar untuk terus memperketat suku bunga dan juga dari Perdana Menteri Sanae Takaichi yang meminta agar tidak menghambat pertumbuhan dengan biaya pinjaman yang tinggi BoJ sendiri telah memulai era pengetatan suku bunga dari bawah nol pada 2024 setelah hampir dua dekade menerapkan kebijakan moneter yang sangat longgar


