faktual.news – Pemerintah Singapura akhirnya angkat bicara mengenai kebijakan strategis Indonesia yang kini memusatkan ekspor komoditas vital seperti kelapa sawit mentah (CPO) batu bara dan paduan besi melalui satu pintu yaitu PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Deputi Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gan Kim Yong menyampaikan tanggapannya di Jakarta setelah pertemuan penting Six Bilateral Economic Working Groups (6WG) Indonesia-Singapura.
Gan Kim Yong menjelaskan bahwa setiap negara memiliki prioritas dan kondisi internal yang berbeda dalam merumuskan kebijakan ekspornya. Meskipun demikian Singapura berharap agar akses terhadap berbagai komoditas ekspor dari Indonesia dapat tetap berjalan lancar tanpa hambatan di tengah perubahan tata kelola perdagangan ini. "Setiap negara memiliki perhatian dan prioritasnya sendiri" tegas Gan dalam konferensi pers Senin 9 Juni.

Singapura berkomitmen penuh untuk terus berkolaborasi dengan Indonesia guna memastikan Negeri Khatulistiwa tetap menjadi tujuan investasi yang sangat menarik bagi para pelaku usaha dari Negeri Singa. Pihaknya juga akan intens berkomunikasi dengan komunitas bisnis untuk menjaga hubungan perdagangan bilateral kedua negara tetap harmonis dan produktif.
"Kami akan terus bekerja sama dengan para pebisnis Singapura untuk mencari cara terbaik berinteraksi dengan Indonesia memastikan aliran ekspor ke Indonesia dan akses terhadap ekspor Indonesia tetap mengalir bebas" imbuhnya. Gan juga menyoroti pentingnya ketahanan rantai pasok sebagai salah satu agenda utama dalam diskusi bilateral tersebut. Menurutnya penguatan kerja sama rantai pasok sangat krusial untuk menjaga stabilitas arus perdagangan di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.
Pernyataan ini disampaikan sebagai respons atas pertanyaan mengenai potensi dampak kebijakan sentralisasi ekspor melalui DSI terhadap minat investasi dan perdagangan Singapura. Meski ada perubahan Gan menegaskan bahwa minat investor Singapura terhadap Indonesia tetap kokoh. Ia memuji fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai sangat atraktif dalam jangka panjang didukung oleh kekayaan sumber daya alam melimpahnya tenaga kerja serta peluang investasi yang luas.
"Fundamental Indonesia tetap sangat kuat dan sangat menarik. Indonesia memiliki banyak sumber daya tenaga kerja dan peluang" ujarnya. Singapura hingga kini masih menjadi investor asing terbesar di Indonesia dengan nilai investasi yang signifikan mencapai sekitar US$174 miliar. Gan menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen Singapura sebagai mitra yang berharga dan dapat diandalkan bagi Indonesia.


