Faktual News – Jakarta – Mata uang Garuda menunjukkan performa positif di awal perdagangan Jumat (10/4) pagi. Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis ke level Rp17.083 per dolar Amerika Serikat (AS), mencatatkan kenaikan 0,04 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.090 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah sorotan tajam investor terhadap perkembangan gencatan senjata antara AS dan Iran yang semakin rapuh.
Menurut Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, pelemahan tipis indeks dolar AS (DXY) di bawah level 99 turut menjadi faktor. Namun, fokus utama investor tetap tertuju pada dinamika geopolitik di Timur Tengah. Andry mencermati bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran semakin menunjukkan tanda-tanda kerapuhan menjelang dialog perdamaian yang dijadwalkan hari ini. "Kesepakatan yang diharapkan ini menghadapi tekanan serius. Israel masih melanjutkan konflik dengan Hizbullah di Lebanon, sementara Teheran menuduh Washington melanggar perjanjian. Situasi diperparah dengan masih ditutupnya Selat Hormuz," jelas Andry pada Jumat, 10 April 2026.
Dari lanskap ekonomi global, data dari Amerika Serikat menunjukkan sinyal beragam. Inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk Februari 2026 tercatat meningkat 0,4 persen secara bulanan, sesuai ekspektasi. Angka ini lebih tinggi dari Januari 2026 (0,3 persen) dan menjadi yang tertinggi dalam setahun terakhir, didorong oleh lonjakan harga barang sebesar 0,7 persen setelah periode stagnasi. Kenaikan harga ini terutama terlihat pada sektor kendaraan bermotor dan suku cadang, barang rekreasi, bensin, pakaian, serta makanan. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal IV 2025 direvisi turun menjadi 0,5 persen secara tahunan (yoy), dari estimasi awal 0,7 persen dan jauh di bawah pembacaan awal 1,4 persen, utamanya akibat penurunan investasi. Klaim pengangguran awal juga menunjukkan tren kenaikan.
Pasar kini menanti dengan cermat rilis laporan inflasi Consumer Price Index (CPI) Maret 2026 yang dijadwalkan hari ini, guna mengukur sejauh mana eskalasi konflik di Timur Tengah telah memengaruhi tingkat harga. Lebih lanjut, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Maret 2026 mengindikasikan kekhawatiran mendalam bahwa konflik geopolitik ini berpotensi memicu inflasi yang berkepanjangan, bahkan dapat mendorong Federal Reserve untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut. "Meskipun demikian, The Fed masih memproyeksikan adanya satu kali pemangkasan suku bunga pada tahun ini," imbuh Andry.
Dengan mempertimbangkan beragam sentimen global dan domestik yang saling tarik-menarik ini, Andry Asmoro memproyeksikan pergerakan nilai tukar rupiah pada hari ini akan berada dalam rentang yang ketat. "Pandangan kami, rupiah hari ini diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp17.040 hingga Rp17.120 per dolar AS," pungkas Andry.
