Faktual News – Saham PT Bank Central Asia Tbk (IDX: BBCA) tengah menjadi pusat perhatian investor setelah mengalami koreksi harga yang cukup dalam sejak awal tahun. Namun, di tengah pelemahan ini, seorang pengamat pasar modal terkemuka justru melihatnya sebagai sinyal beli yang langka, memproyeksikan potensi penguatan kembali yang masif di tahun 2025 dan seterusnya.
Perlu dicatat, saham BBCA telah terkoreksi hingga 19 persen sejak awal tahun 2026 hingga saat ini. Pelemahan ini sejalan dengan tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga melemah 14,71 persen secara year to date (YTD) per 10 April 2026. Jelang penutupan perdagangan sesi I pada hari tersebut, saham bank blue chip ini berada di kisaran level 6.625.
Rendy Yefta, seorang pengamat pasar modal, menilai bahwa fenomena ini justru menjadi sinyal beli yang kuat bagi investor. Menurutnya, secara historis, pasar selalu memberikan valuasi premium terhadap kualitas BBCA, dengan rasio Price to Book Value (PBV) normalnya di kisaran 4x hingga 5x. Namun, sentimen kepanikan global dan rotasi sektor telah menyeret harga sahamnya turun drastis, menciptakan kondisi undervalued yang jarang terjadi.
"Ini adalah fenomena undervalued yang sangat langka untuk saham sekelas kasta tertinggi (super blue chip). Mengambil BBCA di harga di bawah Rp7.000 ibarat Anda memungut Mercy di showroom dengan harga Avanza," tegas Rendy dalam keterangan resminya, dikutip Jumat, 10 April 2026.
Keyakinan Rendy ditopang oleh fundamental BBCA yang sangat solid, terutama dari sisi kinerja keuangan yang menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan. Pada tahun 2025, BBCA berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 57,5 triliun, meningkat 4,9 persen secara year on year (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 54,8 triliun. Menariknya, laba bersih BBCA di tahun 2025 bahkan melampaui total kapitalisasi pasar beberapa bank lain yang tercatat di bursa. Dukungan dana murah (CASA) yang melimpah, efisiensi operasional yang terjaga, serta basis nasabah yang sangat loyal menjadi pilar kekuatan BBCA.
Oleh karena itu, Rendy meyakini bahwa pergerakan saham BBCA saat ini merupakan anomali harga yang relatif jarang terjadi. Ke depan, ketika sentimen negatif mereda, Rendy memproyeksikan harga BBCA akan kembali menuju normalisasi valuasinya di level PBV 4x. "Potensi capital gain yang masif menanti investor yang berani mengambil posisi di harga saat ini," ujarnya. Ia menganalogikan, "Orang bijak mengumpulkan emas saat harganya sedang jatuh ke lumpur, bukan saat semua orang sedang antre membelinya di toko."
Sebagai penutup, Rendy mewanti-wanti investor untuk mencermati rilis kinerja BBCA untuk kuartal I 2026 yang akan segera dipublikasikan. Melihat tren efisiensi dan penyaluran kredit yang terus menunjukkan pertumbuhan positif, laporan keuangan tersebut diproyeksikan akan menjadi katalis yang kuat bagi pergerakan saham BBCA ke depan.
