Faktual News – Pasar modal Indonesia sedang di ambang ketidakpastian. Isu trading halt pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengemuka setelah gejolak geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat-Israel, memicu tekanan signifikan di bursa global. Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi bahwa koreksi tajam IHSG adalah cerminan langsung dari memanasnya tensi tersebut, yang turut mengguncang sentimen investor.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Irvan Susandy, menegaskan bahwa pelemahan IHSG tak terpisahkan dari eskalasi konflik. Kekhawatiran pasar memuncak pasca-Iran mengancam penutupan Selat Hormuz, jalur maritim krusial untuk distribusi energi global. "Ini adalah dampak langsung dari tensi geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas, ditambah ancaman penutupan Selat Hormuz yang menimbulkan kekhawatiran krisis energi. Kenaikan harga minyak dunia sudah menjadi indikator jelas," jelas Irvan di Jakarta, seperti dikutip Antara, Rabu (4/3).

Tekanan IHSG Sejalan dengan Bursa Regional
Tekanan yang dialami IHSG ternyata bukan fenomena tunggal. Pasar domestik bergerak selaras dengan tren negatif di bursa-bursa regional Asia. Bahkan, bursa saham Korea Selatan sempat memberlakukan trading halt setelah indeksnya anjlok lebih dari 8% dalam satu sesi perdagangan. "Pergerakan IHSG searah dengan indeks regional lainnya yang juga mengalami penurunan drastis, seperti Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAEIX, dan ASX. Kospi bahkan sempat dihentikan sementara perdagangannya," tambah Irvan, menggarisbawahi bahwa koreksi ini adalah bagian dari gelombang risk-off global akibat ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga energi.
Per Rabu (4/3) pukul 11.11 WIB, IHSG tercatat melemah 251,47 poin atau 3,17%, bertengger di level 7.688,29. Penurunan signifikan ini memperkuat spekulasi pelaku pasar mengenai potensi volatilitas lanjutan, bahkan kemungkinan trading halt jika tekanan tak kunjung mereda.
Data Transaksi dan Kinerja Bursa Asia Lainnya
Volume transaksi mencapai 30,95 miliar saham senilai Rp15,89 triliun, dengan frekuensi 1.843.291 kali. Data menunjukkan dominasi saham yang melemah, dengan 703 saham terkoreksi, 66 menguat, dan 43 stagnan.
Indeks-indeks utama Asia lainnya juga tak luput dari tekanan. Nikkei Jepang merosot 1.883,40 poin atau 3,35% ke 54.395,69. Shanghai Tiongkok melemah 59,11 poin atau 1,43% ke 4.063,57. Kospi Korea Selatan anjlok 417,32 poin atau 7,21% ke 25.052,00. Hang Seng Hong Kong turun 717,01 poin atau 2,78% ke 25.051,06, dan Strait Times Singapura terkoreksi 112,50 poin atau 2,29% ke 4.804,14.
Bank Indonesia memandang dinamika ini sebagai hal yang krusial untuk dicermati, mengingat dampaknya yang meluas tak hanya pada pasar keuangan, tetapi juga berpotensi memicu inflasi melalui lonjakan harga energi global. Kendati demikian, otoritas moneter menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi kebijakan demi menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah mengimbau investor untuk tetap rasional dan tidak panik di tengah ketegangan global. Situasi ini menggarisbawahi betapa rentannya pasar keuangan domestik terhadap gejolak eksternal, khususnya isu geopolitik yang berdampak pada komoditas vital. Kewaspadaan dan strategi investasi yang cermat menjadi kunci di tengah ketidakpastian ini.

