Faktual News – PT Astra International Tbk (ASII) mengumumkan penurunan laba bersih konsolidasi sepanjang tahun buku 2025, mencatatkan angka Rp32,76 triliun. Angka ini terkoreksi 3,34% dibandingkan dengan Rp33,90 triliun yang diraih pada tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, pendapatan bersih Grup Astra juga mengalami sedikit koreksi, turun 1,55% menjadi Rp323,39 triliun dari Rp328,48 triliun di tahun 2024.
Presiden Direktur ASII, Djony Bunarto Tjondro, mengidentifikasi dua faktor utama di balik penurunan laba grup pada 2025: merosotnya harga komoditas batu bara dan lesunya pasar mobil baru. "Meskipun demikian, kinerja bisnis Grup tetap menunjukkan resiliensi, didukung oleh kontribusi positif dari berbagai lini usaha lainnya," ungkap Djony dalam keterangan resmi yang diterima faktual.news pada Jumat, 27 Februari 2026.

Otomotif dan Alat Berat Menjadi Tantangan Utama
Sektor otomotif, yang secara historis menjadi penopang utama laba bersih ASII, masih menyumbang Rp11,36 triliun pada 2025. Namun, kontribusi ini sedikit melambat, turun tipis 0,32% dari Rp11,40 triliun di tahun sebelumnya, meskipun kinerja bisnis sepeda motor dan komponen masih cukup solid.
Penurunan yang lebih mencolok terjadi pada segmen alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi. Laba bersih dari segmen ini anjlok 25,37% menjadi Rp9,09 triliun pada 2025, dari sebelumnya Rp11,99 triliun. Penurunan signifikan ini sebagian besar disumbang oleh kinerja PT Pamapersada Nusantara (PAMA), penyedia jasa penambangan, yang melaporkan volume pengupasan lapisan tanah terkoreksi 10% menjadi 1,1 miliar bank cubic metres. Faktor pemicunya antara lain curah hujan yang lebih tinggi serta penurunan stripping ratio dari sejumlah kontrak klien.
Jasa Keuangan dan Segmen Lainnya Tumbuh Impresif
Di tengah tantangan tersebut, beberapa segmen bisnis Astra justru menunjukkan performa yang mengesankan, menjadi "penyelamat" kinerja keseluruhan grup. Segmen jasa keuangan mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 9,17%, mencapai Rp8,95 triliun. Peningkatan ini didorong oleh ekspansi portofolio pembiayaan konsumen yang semakin kuat.
Selain itu, segmen bisnis lainnya juga menorehkan kinerja positif. Agribisnis berhasil meraih laba Rp1,2 triliun, tumbuh 28%. Sektor infrastruktur tidak kalah cemerlang, meningkat 24% menjadi Rp1,3 triliun. Segmen teknologi informasi juga menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 33%, mencapai laba Rp208 miliar, sementara segmen properti membukukan laba Rp719 miliar.
Prospek dan Strategi ke Depan
Menatap prospek ke depan, Djony Bunarto Tjondro mengakui bahwa kondisi operasional di beberapa bisnis masih akan menghadapi tantangan. Namun, ia optimis bahwa sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik.
Astra menegaskan komitmennya untuk terus berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin. Dengan memanfaatkan posisi neraca keuangan yang kuat, grup ini bertekad untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan. (*)
