Faktual News melaporkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menorehkan kinerja buruk pada perdagangan Jumat, 20 Juni 2025. Penutupan IHSG di angka 6.907,13 menandai koreksi 0,88 persen dari posisi pembukaan di 6.968,63. Bayang-bayang merah membayangi bursa, dengan 386 saham mengalami penurunan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: apa yang sebenarnya terjadi?
Data dari RTI Business menunjukkan kontras yang tajam. Meskipun volume perdagangan terbilang tinggi, mencapai 35,46 miliar saham dengan nilai transaksi Rp22,59 triliun dan 1,19 juta kali frekuensi perpindahan tangan, namun pasar saham domestik masih didominasi oleh sentimen negatif. Hanya 231 saham yang berhasil menguat, sementara 190 saham lainnya stagnan.

Kinerja buruk IHSG juga diikuti oleh seluruh indeks domestik. IDX30 anjlok 1,13 persen ke level 397,08, Sri-Kehati melemah 0,95 persen menjadi 352,59, LQ45 merosot 1,28 persen ke 764,93, dan JII tertekan hingga 1,82 persen, parkir di angka 482,05. Kondisi ini menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan di seluruh sektor pasar.
Hampir seluruh sektor merasakan dampak negatif, dengan sektor bahan baku memimpin penurunan (1,82 persen), disusul infrastruktur (1,29 persen), properti (1,26 persen), energi (0,95 persen), dan kesehatan (0,84 persen). Sektor non-siklikal, keuangan, siklikal, teknologi, dan industri juga ikut tergerus, masing-masing mencatat penurunan sebesar 0,66 persen, 0,57 persen, 0,53 persen, 0,16 persen, dan 0,11 persen.
Satu-satunya oase di tengah badai merah adalah sektor transportasi yang mencatat penguatan 1,57 persen. Kenaikan ini terutama didorong oleh performa positif PT Garuda Indonesia (GIAA) yang naik 1,52 persen.
Di antara saham-saham yang mencuri perhatian, PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI), PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) menjadi top gainers. Sebaliknya, PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), PT MD Entertainment Tbk (FILM), dan PT Sentul City Tbk (BKSL) tercatat sebagai top losers. Sementara itu, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memimpin daftar saham dengan frekuensi perdagangan tertinggi. Analisis lebih lanjut diperlukan untuk memahami dinamika pasar yang lebih mendalam.
