Faktual.news – Langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi regional resmi diambil oleh Singapura dan Malaysia. Kedua negara tersebut secara resmi telah memperbarui kemitraan strategis mereka guna mempererat kerja sama bilateral di sektor energi. Salah satu poin krusial dalam kesepakatan ini adalah keputusan Singapura untuk mengimpor listrik dalam skala besar, yakni mencapai 1,3 gigawatt (GW), dari Malaysia.
Penandatanganan kesepakatan penting ini berlangsung di tengah perhelatan bergengsi Singapore International Energy Week (SIEW) ke-19. Melalui pembaruan Nota Kesepahaman (MoU) ini, kedua negara membangun kerangka kerja yang lebih kokoh untuk memperkuat kolaborasi teknis, penyelarasan regulasi, hingga pertukaran pengetahuan di bidang energi.

Fokus utama dari kerja sama ini mencakup berbagai aspek vital, mulai dari perencanaan dan keandalan sistem kelistrikan serta pipa gas, hingga regulasi pasar listrik di tingkat grosir maupun eceran. Selain itu, kedua negara juga akan fokus pada pelaksanaan proyek perdagangan listrik lintas batas, pengelolaan Sertifikat Energi Terbarukan (REC), serta peningkatan kapasitas interkoneksi antarnegara. Kerja sama ini juga akan memperluas kolaborasi pada pengembangan sistem tenaga surya dan teknologi penyimpanan energi yang lebih efisien.
Proses pertukaran dokumen MoU tersebut disaksikan langsung oleh Wakil Perdana Menteri Malaysia yang juga menjabat sebagai Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air, Datuk Seri Fadillah Yusof, bersama Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Dr. Tan See Leng. Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi integrasi energi di kawasan Asia Tenggara.
Dalam perkembangan terkait, Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) telah memberikan persetujuan bersyarat kepada Sembcorp Utilities Pte Ltd untuk mengimpor listrik sebesar 1,3 GW tersebut. Proyek ambisius ini dijalankan melalui kemitraan dengan konsorsium MY Energy Consortium (MYEC), yang melibatkan pemain besar seperti Petroliam Nasional Bhd (Petronas), Tenaga Nasional Bhd (TNB), dan PetroVietnam Technical Services Corporation (PTSC).
Kesepakatan ini merupakan kelanjutan dari perjanjian pengembangan bersama yang telah disepakati sebelumnya pada KTT ASEAN ke-46 di Kuala Lumpur pada Mei 2025 lalu. Dengan adanya izin ini, Singapura memiliki peluang besar untuk mengintegrasikan pasokan listrik rendah karbon dari berbagai sumber regional, termasuk memanfaatkan tenaga surya dari Malaysia serta potensi pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai dari Vietnam.
Sembcorp Utilities menargetkan operasional impor listrik dari proyek ini dapat mulai berjalan pada tahun 2035. Selama beberapa tahun ke depan, konsorsium akan fokus pada pengembangan proyek, pengurusan perizinan dari otoritas terkait, penyelesaian Perjanjian Jual Beli Listrik (PPA), serta memastikan ketersediaan pendanaan yang memadai untuk mendukung keberhasilan proyek energi lintas batas ini.


