Faktual.news – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan pernyataan tegas terkait dinamika pasar modal global yang tengah menyoroti Indonesia. Menanggapi adanya wacana penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), Airlangga memastikan bahwa hal tersebut tidak akan mengganggu arus masuk investasi riil, khususnya di sektor Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Airlangga menjelaskan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara indikator yang digunakan oleh MSCI dengan realisasi investasi di lapangan. Menurutnya, MSCI memiliki fokus utama pada tata kelola korporasi serta indikator di pasar modal saja. Oleh karena itu, perubahan status klasifikasi pasar modal tidak akan memiliki korelasi langsung terhadap proyek-proyek pembangunan fisik dan investasi yang sedang berjalan di berbagai KEK di seluruh Indonesia.

"MSCI itu hanya berkaitan dengan tata kelola di pasar modal (capital market). Jadi, tidak ada hubungannya dengan KEK," ujar Airlangga saat ditemui usai menghadiri Rapat Koordinasi Dukungan Kementerian/Lembaga untuk Pengembangan KEK Kuartal III di Jakarta Pusat, Rabu (21/10).
Ia menambahkan optimisme bahwa realisasi investasi di KEK akan terus melesat. Hingga kuartal ketiga tahun ini, realisasi investasi di kawasan tersebut telah mencapai 67 persen. Pemerintah menargetkan angka ini dapat menyentuh 100 persen pada kuartal keempat, mengingat banyak proyek yang saat ini sedang dalam tahap konstruksi dan pembangunan intensif.
Data menunjukkan bahwa kinerja KEK sejauh ini sangat impresif. Dari total 25 kawasan yang ada, akumulasi investasi yang telah masuk mencapai angka fantastis, yakni Rp382,1 triliun. Tak hanya soal angka modal, keberadaan KEK juga telah memberikan dampak sosial yang nyata dengan menyerap sekitar 302 ribu tenaga kerja lokal.
Pencapaian ini sejalan dengan tren positif investasi nasional secara keseluruhan. Sepanjang periode Januari hingga September 2026, realisasi investasi Indonesia tercatat telah menembus Rp1.539,2 triliun dengan total penyerapan tenaga kerja mencapai 2,1 juta orang.
Salah satu motor penggerak utama yang diandalkan pemerintah adalah sektor pariwisata. Airlangga memproyeksikan bahwa KEK Pariwisata akan menjadi penyumbang devisa yang sangat signifikan, bahkan nilainya mampu bersaing dengan komoditas ekspor unggulan lainnya.
"Sektor pariwisata adalah andalan kita. Pendapatan dan devisa dari sektor ini diproyeksikan mencapai US$25 miliar. Angka ini hampir setara dengan nilai ekspor tiga besar kita, yaitu nikel, batu bara, dan kelapa sawit," jelasnya.
Pemerintah telah menyiapkan enam KEK Pariwisata unggulan untuk mengejar target tersebut, di antaranya adalah Mandalika, Kura-Kura Bali, Tanjung Kelayang, dan Tanjung Lesung. Dengan target kunjungan wisatawan mancanegara di angka 16 hingga 17,6 juta orang, pemerintah optimistis devisa negara akan terus menguat melalui sektor ini.
Terkait isu MSCI yang mengusulkan penurunan klasifikasi Indonesia dari pasar negara berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market), Airlangga mengingatkan bahwa proses ini masih dalam tahap konsultasi publik. Keputusan final mengenai status pasar modal Indonesia baru akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027 mendatang. Melalui laporan ini, pemerintah tetap fokus pada penguatan ekonomi riil guna menjaga stabilitas pertumbuhan nasional.


